Analisis
Struktural dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk
(Buku Pertama Dari Trilogi)
Oleh
Ahmad Tohari
Nama : Luthfia
Safitri
NIM : A1B113221
Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia
Universitas Lambung Mangkurat
Menganalisis novel ronggeng dukuh paruk dengan cara
memakai pendekatan struktural berguna untuk memudahkan pembaca dalam hal
mencari unsur instrinsik dan ekstrinsik dalam novel tersebut. Novel ini saya
unggah memaluli situs internet, berisi 64 halaman. Untuk memaknai isi
keseluruhan novel tersebut, berikut analisis strukturalnya.
A.
Unsur Intrinsik
Novel Ronggeng Dukuh Paruk
a.
Tema : Masalah yang dibicarakan dalam cerita
Sosok perempuan
yang kehidupannya tergoyah karena pengaruh hukum adat di tempat dia tinggal
Bukti : “ Eh
Rasus. Mengapa kau menyebut hal-hal sudah lalu? Aku mengajukan permintaan itu
sekarang. Dengar rasus, aku akan berhenti menjadi ronggeng karena aku ingin
menjadi istri seorang tentara. Engkaulah orangnya.” (Tohari,Ahmad. 2008:63)
“............. bahkan lebih dari itu. Aku akan
memberi kesempatan kepada pedukuhanku yang kecil itu kembali kepada
keasliannya. Dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, aku memberi
sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk: Ronggeng!” (Tohari,Ahmad,
2008:64)
b.
Alur : Jalan cerita
Maju, mundur, gabungan
Bukti
alur Maju : “ Jadi pada malam yang
bening itu, tak ada anak Dukuh Paruk keluar halaman. Setelah menghabiskan
sepiring nasi gaplek mereka lebih senang bergulung dalam kain sarung, tidur di
atas balai-balai bambu. Mereka akan bangun esok pagi bila sinar matahari
menerobos celah dinding dan menyengat diri mereka.” (Tohari, Ahmad. 2008:7)
Bukti
alur mundur : “ Sebelas tahun yang lalu
ketika Srintil masih bayi. Dukuh Paruk yang kecil basah kuyup tersiram hujan
lebat. Dalam kegelapan yang pekat, pemukiman terpencil itu lengang, amat
lengang.” (Tohari,Ahmad, 2008:11)
Bukti
alur gabungan: “ Dukuh Paruk dengan segalan isinya termasuk cerita Nenek itu
hanya bisa ku rekam setelah aku dewasa. Apa yang ku alami sejak anak-anak
kusimpan dalam ingatan yang serba sederhana.” (Tohari,Ahmad, 2008:17)
“ Lebih baik sekarang kuhadapi hal yang
lebih nyala. Srintil sudah menjadi Ronggeng di Dukuh Paruk.” (Tohari,Ahmad,
2008:19)
“Tahun 1960 wilayah kecamatan Dawuan tidak
aman.” (Tohari,Ahmad, 2008:64)
“ Sebagai laki-laki usia dua puluh tahun, aku
hampir dibuatnya menyerah.” (Tohari,Ahmad, 2008:63)
c.
Tokoh : Orang yang berperan dalam
cerita
1.
Rasus 9.
Nenek Rasus
2.
Warta 10.
Santayib (Ayah Srintil)
3.
Dursun 11. Istri Santayib (Ibu Srintil)
4.
Srintil 12. Dower
5.
Sakarya ( Kakek
Srintil) 13. Sulam
6.
Ki Secamenggala 14. Siti
7.
Kartareja dan Nyai
Kartareja 15. Sersan Slamet
8.
Sakum 16. Kopral Pujo
d.
Penokohan/Watak: Sifat
pemain dalam sebuah novel
1.
Rasus : bersahabat, penyayang,
pendendam, pemberani
Bukti bahwa Rasus bersahabat “ Di tepi kampung, tiga
orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong.”
(Tohari,Ahmad, 2008:4)
Bukti bahwa Rasus penyayang “ Suatu saat ku bayangkan
emak ingin pulang ke Dukuh Paruk.” (Tohari,Ahmad, 2008:49)
Bukti bahwa Rasus pendendam “ Nenek menjadi korban balas
dendamku terhadap Dukuh Paruk......” (Tohari,Ahmad, 2008:47)
Bukti bahwa Rasus pemberani “ Aku mengutuk sengit mengapa
kopral Pujo belum juga muncul. Karena tidak sabar menunggu, maka timbul
keberanianku” (Tohari,Ahmad, 2008:61)
2.
Warta : bersahabat, perhatian dan
penghibur
Bukti bahwa Warta bersahabat “ Di tepi kampung, tiga
orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong.”
(Tohari,Ahmad, 2008:4)
Bukti bahwa Warta perhatian dan penghibur “Rasus, kau
boleh sakit hati. Kau boleh cemburu. Tetapi selagi kau tak mempunyai sebuah
ringgit emas, semuanya menjadi sia-sia.” (Tohari,Ahmad, 2008:37)
“Tidak apa-apa Warta. Percayalah sahabatku, tak ada yang
salah pada diriku. Aku terharu. Suaramu memang bisa membuat siapa pun merasa
begitu terharu.” (Tohari,Ahmad, 2008:37)
3.
Dursun : bersahabat
Bukti bahwa Dursun bersahabat Di tepi kampung, tiga orang
anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong.”
(Tohari,Ahmad, 2008:4)
4.
Srintil : Bersahabat, seorang ronggeng,
agresif, Dewasa
Bukti bahwa Srintil bersahabat “ Sebelum berlari pulang.
Srintil minta jaminan besok hari Rasus dan dua orang temannya akan bersedia
kembali bermain bersama.” (Tohari,Ahmad, 2008:4)
Bukti bahwa Srintil seorang Ronggeng “ ......., Srintil
mulai menari. Matanya setengah terpeja. Sakarya yang berdiri di samping
Kartsreja memperhatikan ulah cucunya dengan seksama. Dia ingin membuktikan
bahwa dalam tubuh Srintil telah bersemayam indang ronggeng.” (Tohari,Ahmad,
2008:10)
Bukti bahwa Srintil agresif “ aku tak bergerak sedikit
pun ketika Srintil merangkulku, menciumiku. Nafasnya terdengar begitu cepat.”
(Tohari,Ahmad, 2008:38)
Bukti bahwa Srintil dewasa “ dia tidak mengharapkan uang.
Bahkan suatu ketika dia mulai berceloteh tentang bayi, tentang perkawinan.”
(Tohari,Ahmad, 2008:53)
5.
Sakarya (Kakek
Srintil): Penyayang, tega
Bukti bahwa Sakarya penyayang “dibawah lampu minyak yang
bersinar redup. Sakarya, kamitua di pedukuhan kecil itu masih merenungi ulah
cucunya sore tadi.” (Tohari,Ahmad, 2008:8)
Bukti bahwa Sakarya tega “Jangkrik!” sahutku dalam hati.
“kamu si tua bangka dengan cara memperdagangkan Srintil.” (Tohari,Ahmad,
2008:63)
6.
Ki Secamenggala :
nenek moyang asal Dukuh Paruk
Buktinya adalah “hanya Sakarya yang cepat tanggap. Kakek
Srintil itu percaya penuh Roh Ki Secamenggala telah memasuki tubuh
Kartareja.....” (Tohari,Ahmad, 2008:27)
7.
Kartareja dan Nayi
Kartareja : mistis, egois
Bukti bahwa Kartareja dan Nyai Karateja mistis “Satu hal
disembunykan oleh Nyai Kartareja terhadap siapa pun. Itu ketika dia meniuokan
mantra pekasih ke ubun-ubun Srintil.” (Tohari,Ahmad, 2008:9)
“Tiba giliran bagi Kartareja. Setelah komat-kamit
sebentar, laki-laki itu memberi aba-aba....” (Tohari,Ahmad, 2008:26)
8.
Sakum : hebat
Bukti bahwa Sakum hebat “ Sakum, dengan mata buta mampu
mengikuti secata seksama pagelaran ronggeng.” (Tohari,Ahmad, 2008:9)
9.
Nenek Rasus : linglung
Bukti bahwa Nenek Rasus pikun “ Ah, semakin tua nenekku.
Kurus dan makin bungkuk. Kasian, Nenek tidak bisa banyak bertanya kepadaku.
Linglung dia.” (Tohari,Ahmad, 2008:62)
10. Santayib (Ayah Srintil) : bertanggungjawab, keras kepala
Bukti bahwa Santayib bertanggungjawab “ Meski
Santayiborang yang paling akhir pergi tidur, namun dia pulalah pertama kali
terjaga di Dukuh Paruk.....” (Tohari,Ahmad, 2008:12)
Bukti bahwa Santayib keras kepala “Kalian, orang Dukuh
Paruk. Buka matamu, ini Santayib! Aku telah menelan seraup tempe bongrek yang
kalian katakan beracun. Dasar kalian semua, asu buntung! Aku tetap segar bugar
meski perutku penuh tempe bingrek. Kalian mau mampus, mampuslah! Jangan katakan
tempeku mengandung racun......” (Tohari,Ahmad, 2008:15)
11. Istri Santayib :
Keibuan, prihatin
Bukti bahwa Istri Santayib keibuan “ Srintil bayi yang
tahu diri. Rupanya dia tahu aku harus melayani sampean setiap pagi.” (Tohari,Ahmad,
2008:12)
Bukti bahwa Istri Santayib prihatin “Srintil kang.
Bersama siapakah nanti anak kita, kang?” (Tohari,Ahmad, 2008:16)
12. Dower :
mengusahakan segala macam cara
Bukti bahwa Dower mengusahakan “ pada saja baru ada dua
buah perak. Saya bermaksud menyerahkannya kepadamu sebagai panjar. Masih ada
waktu satu hari lagi. Barangkali besok bisa kuperoleh seringgit emas.”
(Tohari,Ahmad, 2008:34)
“Aku datang lagi kek. Meski bukan sekeping ringgit emas
yang kubawa, kuharap engkau mau menerimanya.” (Tohari,Ahmad, 2008:41)
13. Sulam :
penjudi dan berandal, sombong
Bukti bahwa Sulam penjudi dan berandal “ Dia juga kenal
siapa Sulam adanya; anak seorang lurah kaya dari seberang kampung. Meski sangat
muda, Sulam dikenal sebagai penjudi dan berandal.” (Tohari,Ahmad, 2008:42)
Bukti bahwa Sulam sombong “ Sebuah pertanyaan yang
menghina, kecuali engkau belum mengenalku. Tentu saja aku membawa sebuah
ringgit emas. Bukan rupiah perak, apalagi kerbau seperti anak pecikalan ini.”
(Tohari,Ahmad, 2008:42)
14. Siti :
alim
Bukti bahwa Siti alim “hw, jangan samakan Siti dengan
gadis-gadis di Dukuh Paruk. Dia marah karena kau memperlakukannya secara tidak
senonoh.” (Siti meleparkan singkong ke arah Rasus) (Tohari,Ahmad, 2008:50)
15. Sersan Slamet :
penyuruh, tegas
Bukti bahwa Sersan Slamet penyuruh “Pekerjaan
dimulai.peti-prti logam serta barang lainnya diangkat ke atas pundak dan kubawa
ke sebuah rumah....” (Tohari,Ahmad, 2008:54)
Bukti bahwa Sersan Slamet tegas “Katakan; ya! Kami
tentara. Kami memerlukan ketegasan dalam setiap sikap,” kata Sersan Slamet
tegas (Tohari,Ahmad, 2008:55)
16. Kopral Pujo : penakut
Bukti bahwa Kopral Pujo penakut “ mengecewakan. Ternyata
Kopral Pujo tidak lebih berani daripada aku......” (Tohari,Ahmad, 2008:60)
e.
Latar Waktu : Waktu terjadinya suatu peristiwa
dalam sebuah cerita
-
Sore hari “ ketiganya
patuh. Ceria dibawah pohon nangka itu sampai matahari menyentuh garis
vakrawala.” (Tohari,Ahmad, 2008:7)
-
Malam hari “ jadi
pada malam yang bening itu, tak ada anak Dukuh Paruk yang keluar halaman...” (Tohari,Ahmad,
2008:7)
-
Pagi hari “
menjelang fakar tiba, kudengar burung sikakat mencect si rumpun aur di belakang
rumah.” (Tohari,Ahmad, 2008:63)
f.
Latar Tempat : Tempat terjadinya suatu
peristiwa dalam sebuah cerita
-
Di bawah Pohon
Nangka “ Di pelataran yang membatu di bwah pohon nangka....” (Tohari,Ahmad,
2008:6)
-
Di Pekuburan Dukuh
Paruk“ Selesai bermain satu babak, rombongan ronggeng bergerak menuju pekuburan
Dukuh Paruk.....” (Tohari,Ahmad, 2008:26)
-
Pasar Dawuan “
Pasar Dawuan demi sedikit merenggangkan hubunganku dengan Srintil.”
(Tohari,Ahmad, 2008:50)
-
Di Hutan “ Sampai
di Hutan perburuan langsung dimulai....” (Tohari,Ahmad, 2008:56)
g.
Latar Suasana : Suasana yang terjadi dalam
sebuah cerita
-
Ceria “ Ketiganya
patuh, ceria di bawah pohon nangka itu berlanjut sampai matahari menyentuh
garis cakrawala.” (Tohari,Ahmad, 2008:7)
-
terkesima “
penonton menunda kedipan mata ketika Srintil bangkit....” (Tohari,Ahmad,
2008:10)
-
panik “ Dalam
haru-biru kepanikan itu kata-kata wuru bongkrek mulai di teriakkan orang.” (Tohari,Ahmad,
2008:13)
h.
Sudut Pandang : Pembawaan suatu cerita
-
Mulai dari halaman
4 s.d 17 Sudut pandang yang di gunakan adalah orang ketiga serba tahu karena
dapat dibuktikan seolah-olah pembawa cerita mengetahui apa yang sedang terjadi
pada saat itu “Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki bersusah-pauah
mencabut sebatang singkong.” (Tohari,Ahmad, 2008:4)
-
Mulai dari halaman
17 s.d selsai sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama sebagai pelaku
utama, karena dalam cerita dapat dibuktikan tokoh utama lebih banyak
menceritakan tentang kehidupannya sejak kecil hingga akhirnya menjadi dewasa.
Sejak Rasus berumur empat belas tahun sampai dia berhasil menjadi tentara di
usia dua puluh tahun.
i.
Gaya bahasa : Ciri-ciri pembawaan
bahasa yang terdapat dalam cerita
Gaya Bahasa yang terlihat dalam novel ini kadang
membingungkan, karena terdapat bahasa jawa dan mantra-mantra jawa.
Uluk-uluk perkutut manggung
Teka saka negndi,
Teka saba tanah sabrang
Pakanmu apa
Pakanku madu tawon
Manis madu tawon,
Ora manis kaya putuku, Srintil
(Tohari,Ahmad, 2008:10)
j.
Amanat : Pesan yang disampaikan
pengarang kepada pembaca
Jangan gampang terpengaruh dengan keadaan duniawi karena
suatu saat penyesalan akan datang dalam hidupmu, segala sesuatu akan kembali
kepadaNya. Kehidupan fana dalam hura-hura dunia dapat mencekam masa depanmu!
B.
Unsur Ekstrinsik
Novel Ronggeng Dukuh Paruk
a.
Keagamaan
(relegius)
Dalam novel ini, unsur keagamaan tidak terlalu
diperlihatkan karema warga Dukuh Paruk lebih mempercayai adanya nenek moyang
dan hal-hal animisme lainnya
b.
Kebudayaan
Dalam novel ini, banyak terdapat unsur kebudayaan
seperti: menari, menyanyi sambil nyawer, memberikan sesaji kepada nenek moyang
c.
Sosial
Dalam novel ini, unsur sosial kemasyarakatan lebih
cenderung ke arah ronggeng. Karena segala sesuatu yang berhubungan dengan
hubungan antar manusia lebih diutamakan untuk ronggeng karena bagi mereka,
adanya sosok ronggeng merupakan kebanggaan tersendiri di Dukuh Paruk
-
Latar
belakang pengarang
Latar
belakang pengarang
Ahmad
Tohari adalah sebuah nama besar dan langka di dalam khasanah kesusastraan
Indonesia. Dari karya sastra yang saya baca, nama Ahmad Tohari langgeng dan
cepat nempel di kalangan pembaca. Ketika mendengar namanya, maka asosiasi yang
muncul dari pengarang ini adalah lokalitas, tema keislaman, dan nilai kehidupan
kesederhanaan. Ronggeng Dukuh Paruk adalah salah satu bibel Ahmad
Tohari. Dengan hadirnya serangkaian karya Ahmad sebagai juru bicara
kesusastraan bertema lokal. Pengetahuan Ahmad Tohari mengenai dunia ronggeng
dan filosofinya menegaskan bahwa Ahmad Tohari adalah wakil dari suara
orang-orang yang satu daerah asalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar