KELOMPOK 5
CRISNA YOGA PRATAMA A1B113228
EVA YULINDA SARI A1B113234
HESTI NOVIANTI A1B110206
LUTHFIA SAFITRI A1B113221
MUHAMMAD SUDRI A1B110203
NOOR LATIFAH A1B113238
SILVIA RONAULI S A1B113236
SEMANTIK DAN PRAGMATIK
Pengertian Semantik
Kata semantik sebenarnya merupakan istilah teknis yang mengacu pada
studi tentang makna.Istilah ini merupakan istilah baru dalam bahasa
Inggris.Para ahli bahasa memberikan pengertian semantik sebagai cabang
ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik atau
tanda-tanda lingual dengan hal-hal yang ditandainya (makna). Istilah
lain yang pernah digunakan hal yang sama adalah semiotika, semiologi,
semasiologi, dan semetik. Pembicaraan tentang makna kata pun menjadi
objek semantik. Itu sebabnya Lehrer (1974:1) mengatakan bahwa semantik
adalah studi tentang makna (lihat juga Lyons 1, 1977:1), bagi Lehrer
semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas karena turut
menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat
dihubungkan dengan psikologi, filsafat, dan antropologi.
2. 2 Deskripsi Semantik
Kempson (dalam Aarts dan Calbert, 1979:1) berpendapat, ada empat syarat
yang harus dipenuhi untuk mendeskripsikan semantik. Keempat syarat itu
adalah: 1. Teori itu harus dapat meramalkan makna setiap satuan yang
muncul yang didasarkan pada satuan leksikal yang membentuk kalimat. 2.
Teori itu harus merupakan seperangkat kaidah. 3. Tori itu harus
membedakan kalimat yang secara gramatikal benar dan yangt tidak dilihat
dari segi semantik. 4. Teori tersebut dapat meramalkan makna yang
berhubungan dengan antonym, kontradiksi, sinonim. Dalam kaitannya dengan
semiotik, Morris (1983) (dalam Levinson, 1983:1) mengemukakan tiga
subbagian yang perlu dikaji, yakni : (i) Sintaksis (syntactic) yang
mempelajari hubungan formal antara tanda dengan tanda yang lain (ii)
Semantik (semantics), yakni studi tentang hubungan tanda dengan objek,
(iii) Pragmatik (pragmatics), yakni studi tentang hubungan tanda dalam
pemakaian. Manusia berkomunikasi melalui kalimat.Kalimat yang
berunsurkan kata dan unsur suprasegmental dibebani unsure yang disebut
makna, baik makna gramatikal maupun makna leksikal, yang semuanya harus
ditafsirkan atau dimaknakan dalam pemakaian bahasa.Diantara pembicara
dan pendengar pun terdapat unsure yang kadang-kadang tidak menampak
dalam ujaran. Ujaran yang berbunyi, “Saya marah, Saudara!” terlalu
banyak perlu dipersoalkan; misalnya, mengapa ia memarahi saya; apakah
karena tidak meminjami uang lalu ia memarahi saya? Dan apakah akibat
kemarahan itu?Kelihatannya tidak mudah mendeskripsikan
semantik.Untunglah hal yang dideskripsikan masih berada di dalam ruang
lingkup jangkauan manusia.
2.3 Klasifikasi Makna
Makna dapat diklasifikasikan atas beberapa kemungkinan sebagai mana
diuraikan berikut ini
1. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
• Makna
leksikal adalah makna leksikon/leksen atau kata yang berdiri sendiri,
tidak berada dalam konteks, atau terlepas dari konteks..Begitu kata amplop dapat diberi makna
“sampul surat”, dengan tanpa menggunakan kata itu dalam konteks.Maka
makna “sampul surat” yang terkandung dalam kata amplop itu merupakan
makna leksikal.
• Makna gramatikal merupakan makna yang timbul karena
peristiwa gramatikal. Makna gramatikal itu dikenali dalam kaitannya
dengan unsur yang lain dalam satuan gramatikal.. Dalam konteks itu, kata amplop, misalnya, tidak lagi
bermakna “sampul surat”..
2. Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna denotatif merupakan
makna dasar suatu kata atau satuan bahasa yang bebas dari nilai
rasa.
Makna konotatif adalah makna kata atau satuan lingual yang
merupakan makna tambahan, yang berupa nilai rasa.Nilai rasa itu bisa
bersifat positif, bersifat negatif, bersifat halus, atau bersifat kasar.
Dua buah kata atau lebih memiliki makna denotatif yang sama.
Perbedaannya terletak pada makna konotatifnya. Kata kamu dan anda,
misalnya, memiliki makna denotatif yang sama, yakni “orang kedua
tunggal”. Kedua kata itu berbeda makna konotatifnya .Kata kamu
berkonotasi “kasar”, kecuali bagi orang-orang Tapanuli/Batak, dan kata
anda berkonotasi halus.Demikian juga kata dia dan beliau. Kedua kata itu
berdenotasi “orang ketiga tunggal”, tetapi kata dia tidak berkonotasi
“hormat”, sedangkan kata beliau berkonotasi “hormat”. Dengan kata lain,
kata beliau bermakna konotasi “positif”, sedangkan kata dia tidak
berkonotasi “positif”. Karena tidak berkonotasi “negatif”, kata dia
dapat ditafsirkan berkonotasi “netral” (periksa Chair, 1990:68). Nilai
positif dan negatif yang menjadi ukuran nilai rasa, dapat dinyatakan
dengan berbagai cara. Hormat dan tidak hormat menggambarkan nilai
rasa.Sopan dan tidak sopan juga menggambarkan nilai rasa.
3. Makna Lugas
dan Makna Kias Makna lugas merupakan makna yang sebenarnya.
Makna lugas disebut juga makna langsung, makna yang belum menyimpang
atau belum mengalami penyimpangan.
Makna kias adalah makna
yang sudah menyimpang dalam bentuk ada pengiasan hal atau benda yang
dimaksudkan penutur dengan hal atau benda yang sebenarnya.
.4. Makna Luas dan Makna Sempit
Dilihat dari segi cakupan atau tingkat keluasan makna dua buah kata,
makna dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni makna luas dan makna
sempit.Makna luas merupakan akibat perkembangan makna suatu tanda
bahasa.. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita
dengar juga ungkapan “dalam arti luas” atau “dalam arti sempit”, seperti
yang dapat dikenakan pada kata taqwa. Kata taqwa itu dalam arti luas
adalah “berserah diri kepada Allah” dan dalam arti sempit adalah
“menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala
larangan-larangan-Nya”.Dengan demikian, makna luas dan makna sempit itu
tidak hanya karena perubahan makna, tetapi juga karena tingkat cakupan
makna yang sudah terkotak menjadi dua, yakni makna luas dan makna
sempit.
2.4 Relasi Makna
Antarmakna dua tanda bahasa atau lebih dapat berelasi.Dalam kajian
semantik, relasi makna-makna itu dipilah-pilah atas sejumlah kategori.
1. Sinonimi Sinonim
atau sinonimi adalah hubungan semantic yang menyatakan adanya kesamaan
makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya,
antara kata betul dengan kata benar. Dua buah ujaran yang bersinonim
maknanya tidak akan persis sama.
2.5 Perubahan Makna
Sebab-Sebab Perubahan Makna Perubahan makna yang pertama, perkembangan
dalam bidang ilmu dan teknologi.adanya perkembangan keilmuan dan
teknologi dapat menyebabkan sebuah kata yang pada mulanya bermakna A
menjadi bermakna B atau bermakna C.Misalnya, kata sastra ‘tulisan,
huruf’lalu berubah menjadi bermakna ‘bacaan’; kemudian berubah lagi
menjadi bermakna ‘buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya’.
Selanjutnya, berkembang lagi menjadi ‘karya bahasa yang bersifat
imaginative dan kreatif’.Perubahan makna kata sastra seperti yang kita
sebutkan itu adalah karena berkembangnya atau berubahnya konsep tentang
sastra itu didalam ilmu sussastra.
2. 6 Analisis Makna
Makna merupakan kesatuan mental pengetahuan dan pengalaman yang terkait
dengan lambang bahasa yang mewakilinya..Sebagai contoh, konsep kata mobil diwakili mobil sedan yang
merupakan prototipe konsep mobil.Untuk menentukan apakah satu kata masih
termasuk dalam kategori mobil atau tidak, kata itu harus dibandingkan
dengan prototipe mobil.Misalnya, bus secara pasti dapat dimasukkan dalam
kategori mobil, tetapi bajaj lebih sulit untuk dimasukkan dalam
kategori mobil, karena jarak bajaj dari mobil sedan lebih jauh daripada
jarak bus dengan mobul sedan yang memiliki lebih banyak persamaan.
3. 1 Pengertian Pragmatik
Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda.
Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu
(1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna
menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang
diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan
oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut
jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan
tertentu.
3. 2 Interaksi dan Sopan Santun
Seperti telah dikatakan di awal bab ini, hal-hal di luar bahasa
mempengaruhi pemahaman kita pada hal di dalam bahasa. Untuk memahami apa
yang terjadi di dalam sebuah percakapan, misalnya, kita perlu
mengetahui siapa saja yang terlibat di dalamnya, bagaimana hubungan dan
jarak sosial di antara mereka, atau status relatif di anatara mereka.
Marilah kita perhatikan penggalan-penggalan percakapan berikut ini.
(1)
A: Setelah ini, kerjakan yang lain.
B: Baik, Bu.
(2) C: Bantuin, dong!
D: Sabar sedikit kenapa, sih?
3.3 Implikatur Percakapan
Di dalam bagian sebelumnya kita telah melihat bahwa di dalam percakapan
seorang pembicara mempunyai maksud tertentu ketika mengujarkan
sesuatu.Maksud yang terkandung di dalam ujaran ini disebut implikatur.
Pembicara di dalam percakapan harus berusaha agar apa yang dikatakannya
relevan denga situasi di dalam percakapan itu, jelas dan mudah dipahami
oleh pendengarnya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa ada
kaidah-kaidah yang harus ditaati oleh pembicara agar percakapan dapat
berjalan lancar. Kaidah-kaidah ini, di dalam kajian pragmatic, dikenal
sebagai prinsip kerja sama.
Anak gadis saya yang
perempuan sudah punya pacar. Di dalam kalimat kata gadis sudah
mencakup makan ‘perempuan’ sehingga kata perempuan dalam kalimat
tersebut memberikan kontribusi yang berlebih.
3.4 Pelanggaran Terhadap Maksim Percakapan
Pelanggaran terhadap maksim percakapan akan menimbulkan kesan yang
janggal, kejanggalan itu dapat terjadi jika informasi yang diberikan
berlebihan, tidak benar, tidak relevan, atau berbelit-belit. Kejanggalan
inilah yang biasanya dimanfaatkan di dalam humor.Ada berbagai bentuk
pelanggaran di dalam maksim-maksim percakapan.Tentu kita pun pernah
mengalami situasi yang janggal karena ada pembicara yang bertele-tele
menyampaikan maksudnya, ada kesalahpahaman, ketidaksinkronan, dan
sebagainya. Pengetahaun kita mengenai maksim-maksim di atas akan sangat
membantu kita dalam memahami situasi yang demikian.
3. 5 Pertuturan
1.
Asertif, yang melibatkan penutur kepada kebenaran atau kecocokan
proposisi, misalnya menyatakan, menyarankan, dan melaporkan.
2.
Direktif, yang tujuannya adalah tanggapan berupa tindakan dari mitra
tutur, misalnya menyuruh, memerintahkan, meminta, memohon, dan
mengingatkan.
3. Komisif, yang melibatkan penutur dengan tindakan atau
akibat selanjutnya, misalnya berjanji, bersumpah, dan mengancam.
4.
Ekspresif, yang memperlihatkan sikap penutur pada keadaan tertentu,
misalnya berterima kasih, mengucapkan selamat, memuji, menyalahkan,
memaafkan, dan meminta maaf.
5. Deklaratif, yang menunjukkan perubahan
setelah diujarkan, misalnya membaptiskan, menceraikan, menikahkan, dan
menyatakan.
3.6 Referensi dan Inferensi
Referensi adalah hubungan di antara unsur luar bahasa yang ditunjuk oleh
unsur bahasa dengan lambang yang dipakai untuk mewakili atau
menggambarkannya. Referensi di dalam kajian pragmatik merupakan cara
merujuk sesuatu melalui bentuk bahasa yang dipakai oleh penutur atau
penulis untuk menyampaikan sesuatu kepada mitra tutur atau pembaca.
Berkaitan dengan referensi adalah inferensi. Inferensi adalah
pengetahuan tambahan yang dipakai oleh mitra tutur atau pembaca untuk
memahami apa yang tidak diungkapkan secara eksplisit di dalam ujaran.
Untuk memahami referensi dan inferensi, mari kita perhatikan
kalimat-kalimat berikut ini. (1) Seseorang suka mendengarkan musik
dangdut. (2) Orang itu suka mendengarkan musik dangdut. (3) Orang suka
mendengarkan musik dangdut. Sebagai penutur bahasa Indonesia, kita
mengetahui bahwa seseorang adalah ‘orang yang tidak dikenal’ dan orang
itu adalah orang yang ada didekat kita bicara. Kalimat (1) diatas
mempunyai referensi tak takrif, artinya referensi yang tidak tentu.
Kalimat (2) mempunyai takrif, apa yang dirujuknya jelas dan bertolak
pada rujukan tertentu, sedangkan kalimat (3) mempunyai referensi
generic, tidak merujuk kepada sesuatu yang khusus, dan lebih menekankan
pada sesuatu yang umum.
3. 7 Deiksis
Deiksis adalah cara merujuk pada suatu hal yang berkaitanerat dengan
konteks penutur. Dengan demikian, ada rujukan yang ‘berasal dari
penutur’, ‘dekat dengan penutur’ dan ‘jauh dari penutur’. Ada tiga jenis
deiksis, yaitu deiksis ruang, deiksis persona, dan deiksis waktu.
Ketiga jenis deiksis ini bergantung pada interpretasi penutur dan mitra
tutur, atau penulis dan pembaca, yang berada di dalam konteks yang sama.
a. Deiksis Ruang
Deiksis ruang berkaitan dengan lokasi relative penutur dan mitra tutur
yang terlibat di dalam interaksi. Di dalam bahasa Indonesia, misalnya,
kita mengenal di sini, di situ, dan di sana. Titik tolak penutur
diungkapkan dengan ini dan itu.Marilah kita lihat contoh berikut.A dan B
sedang terlibat di dalam percakapan.A mengambil sepotong kue dan
mengatakan, “Kue ini enak.”Apa yang ditunjuk oleh A, kue ini, tentu akan
disebut B sebagai kue itu. Hal ini terjadi karena titik tolak A dan B
berbeda. Kita juga mengenal kata-kata seperti di sini, di situ dan ini
merujuk kepada sesuatu yang kelihatan atau jaraknya terjangkau oleh
penutur. Selain itu, ada kata-kata seperti di sana dan itu yang merujuk
pada sesuatu yang jauh atau tidak kelihatan, atau jaraknya tidak
terjangkau oleh penutur. Dalam hal tertentu, tindakan kita sering kali
bertalian dengan ruang. Jika kita hendak menunjukkan bagaimana cara
mengerjakan sesuatu, misalnya kita memakai kata begini. Jika kita hendak
merujuk kepada suatu tindakan., kita memakai kata begitu.
b. Deiksis Persona
Deiksis persona dapat dilihat pada bentuk-bentuk
pronominal.Bentuk-bentuk pronominal itu sendiri dibedakan atas
pronominal orang pertama, pronominal orang kedua, dan pronominal orang
ketiga.Di dalam bahasa Indonesia, bentuk ini masih dibedakan atas bentuk
tunggal dan bentuk jamak sebagai berikut. Tunggal Jamak Orang pertama
Orang kedua Orang ketiga aku, saya engkau, kau, kamu, anda ia, dia,
beliau kami, kita kamu, kalian mereka Kadang-kadang penutur bahasa
menyebut dirinya dengan namanya sendiri. Di antara penutur bahasa
Indonesia, sapaan kepada orang kedua tidak hanya kamu atau saya,
melaikan juga Bapak, Ibu, atau Saudara.
c. Deiksis Waktu
Deiksis waktu berkaitan dengan waktu relative penutur atau penulis dan
mitra tutur atau pembaca.Pengungkapan waktu di dalam setiap bahasa
berbeda-beda.Ada yang mengungkapkannya secara leksikal, yaitu dengan
kata tertentu. Bahasa Indonesia mengungkapkan waktu dengan sekarang
untuk waktu kini, tadi dan dulu untuk waktu lampau, nanti untuk waktu
yang akan datang. Hari ini, kemarin dan besok juga merupakan hal yang
relatif, dilihat dari kapan suatu ujaran diucapkan.
4. 1 Hubungan Semantik Dan Pragmatik.
Semantik dan pragmatik keduanya mengkaji
makna, namun makna yang menjadi kajian semantik adalah makna linguistik
(linguistic meaning) yang bebas konteks, sedangkan makna yang dikaji
oleh pragmatik adalah maksud penutur (speaker meaning) yang terkait
dengan konteks. Dengan kata lain, semantik mempelajari makna secara
internal, yaitu makna literal danterpisah dari situasi, penutur dan
petuturnya. Akan tetapi, pragmatik mempelajari makna secara eksternal,
yaitu berhubungan langsung dengan penutur atau pemakai bahasa. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa antara Semantik dan pragmatik memiliki
hubungan yang saling melengkapi (komplementer).
Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua
segi (dyadic) mencakup bentuk dan makna, sedangkan pragmatik
memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga segi
(triadic) yang mencakup bentuk, makna, dan konteks.