Jumat, 27 Desember 2013
Hello :*
selamat sore \m/ lagi iseng nih nggak ada kerjaan. baru aja nemu nih foto, kece kan :D yang baju pink itu best friend gue pake bangetttt namanya Belaa Ayu Dinda Roesadi anaknya om Roesadi dan yang baju hitam itu tu best gue juga namanya Putri Anjani "sepupunya seseorang yang pernah nempel di kehidupan gue" hahaha. nih foto pas lagi bulan Ramadhan, tepatnya di sebuah mall terkenal daerah Ibu Kota Jawa Barat wkwkwk becandong cyyn :D
Kamis, 26 Desember 2013
Blogger?
Tidak ada salahnya bagi kita untuk mengenal sejarah kemunculan blog.Wep blog pertama kali muncul pada sekitar tahun 1993.Sebelum blog menjadi tekenaler, komunitas digital telah mempunyai bebeerapa forum diskusi seperti Usenet,Milis dan BBS (Bulletin Board System). Pada tahun1990, sebuah software forum internet yaitu WepEx, dibuat dengam system percakapan berdasarkan urutan pesan.
Tahun 1994-2001, Blog modern berkembang dari sebuah diary online dimana masyarakat ketika itu mau menampilkan kehidupan pribadi mereka di internet. Kebanyakandari mereka di sebut dengan diarist, atau jurnalis. Justin Hall adalah orang yang pertama kali membuat blog pribadi pada tahu 1994 ketika dia masih menjadi mahasiswa di Swarthmore College, dan dialah yang menjadi pelopor blog pertama kali.
Istilah wep blog diciptakan oleh Jorn Barger pada tangal 17 Desember 1997. Bentuk pendeknya adalah "blog" yang di populerkan oleh Peter Merholz. Dia memmendekan kata webblog menjad we blog. Istilah tersebut dimasukanya ke dalam blognya di www.peterme.com sekitar bulan April atau Mei 1999. Istilah ini kemudian secara cepat berkembang menjadi to blog artinya edit atau kirim ke blog.
Setelah melalui perkembangan yang cukup lamban, maka blog mendapatkan popularitas ketika sebuah wepsite yang bernama Xanga mempunyai 50 juta diary pada Desember 2005,yang sebelumnya pada tahun 1997 hanya mempunyai 100 diary.
Pengunaan blog menjadi lebih populer ketika seiring dengan munculnya berbagai tool yang semakin mempermudah pembuatan blog, antara lain sebagai berikut.
1. Opra Diary, hadir pada bulan Oktober 1998. Opra Diary menjadi blog pertama yang menajak
pembacanya memberikan komentar dan tanggapan kepada penulis lain yang ada dalam blog tersebut.
2. Live Jurnal, dimulai pada bulan Maret 1999 oleh Brad Fitzpatrick.
3. Pitas.com, pada bulan Juli 1999 oleh Andrew Smales, yang kemudian diikuti oleh Diaryland pada
September 1999 yang lebih memfokuskan untuk komunitas diary-diary pribadi.
4. Blogger.com, pada bulan Agustus 1999 oleh Evan Williams dan Meg Hourihan dari Pyra Labs (yang
sekarang telah dibeli oleh Google pada bulan Februari 2003).
Pada tahun 2001-2004, beberapa blog di Amerika telah menjadi populer dan sebagian besar digunakan untuk mendukung kegiatan politik orang-orang pemerinthan seperti Andrew Sullivan.com, Ron Gunzburger.com dan lain-lain.
Dari tahun 2004 sampai sekarang blog telah menjadi "wabah" di internet yang tidak dapat dihindari. Puluhan bahkan ratusan web blog telah mewarnai kebanyakan aktifitas interne saat ini. Blog telah dianngap suatu kebutuhan saat ini karna merupakan media yang efektif dalam mengekspresikan ide, gagasan, dan lain sebagainya.
Sumbr=======> http://lihin-android.blogspot.com/ (lihin android) alumni STMIK DW
Minggu, 15 Desember 2013
Analisis Struktural Novel Ronggeng Dukuh Paruk
Analisis
Struktural dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk
(Buku Pertama Dari Trilogi)
Oleh
Ahmad Tohari
Nama : Luthfia
Safitri
NIM : A1B113221
Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia
Universitas Lambung Mangkurat
Menganalisis novel ronggeng dukuh paruk dengan cara
memakai pendekatan struktural berguna untuk memudahkan pembaca dalam hal
mencari unsur instrinsik dan ekstrinsik dalam novel tersebut. Novel ini saya
unggah memaluli situs internet, berisi 64 halaman. Untuk memaknai isi
keseluruhan novel tersebut, berikut analisis strukturalnya.
A.
Unsur Intrinsik
Novel Ronggeng Dukuh Paruk
a.
Tema : Masalah yang dibicarakan dalam cerita
Sosok perempuan
yang kehidupannya tergoyah karena pengaruh hukum adat di tempat dia tinggal
Bukti : “ Eh
Rasus. Mengapa kau menyebut hal-hal sudah lalu? Aku mengajukan permintaan itu
sekarang. Dengar rasus, aku akan berhenti menjadi ronggeng karena aku ingin
menjadi istri seorang tentara. Engkaulah orangnya.” (Tohari,Ahmad. 2008:63)
“............. bahkan lebih dari itu. Aku akan
memberi kesempatan kepada pedukuhanku yang kecil itu kembali kepada
keasliannya. Dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, aku memberi
sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk: Ronggeng!” (Tohari,Ahmad,
2008:64)
b.
Alur : Jalan cerita
Maju, mundur, gabungan
Bukti
alur Maju : “ Jadi pada malam yang
bening itu, tak ada anak Dukuh Paruk keluar halaman. Setelah menghabiskan
sepiring nasi gaplek mereka lebih senang bergulung dalam kain sarung, tidur di
atas balai-balai bambu. Mereka akan bangun esok pagi bila sinar matahari
menerobos celah dinding dan menyengat diri mereka.” (Tohari, Ahmad. 2008:7)
Bukti
alur mundur : “ Sebelas tahun yang lalu
ketika Srintil masih bayi. Dukuh Paruk yang kecil basah kuyup tersiram hujan
lebat. Dalam kegelapan yang pekat, pemukiman terpencil itu lengang, amat
lengang.” (Tohari,Ahmad, 2008:11)
Bukti
alur gabungan: “ Dukuh Paruk dengan segalan isinya termasuk cerita Nenek itu
hanya bisa ku rekam setelah aku dewasa. Apa yang ku alami sejak anak-anak
kusimpan dalam ingatan yang serba sederhana.” (Tohari,Ahmad, 2008:17)
“ Lebih baik sekarang kuhadapi hal yang
lebih nyala. Srintil sudah menjadi Ronggeng di Dukuh Paruk.” (Tohari,Ahmad,
2008:19)
“Tahun 1960 wilayah kecamatan Dawuan tidak
aman.” (Tohari,Ahmad, 2008:64)
“ Sebagai laki-laki usia dua puluh tahun, aku
hampir dibuatnya menyerah.” (Tohari,Ahmad, 2008:63)
c.
Tokoh : Orang yang berperan dalam
cerita
1.
Rasus 9.
Nenek Rasus
2.
Warta 10.
Santayib (Ayah Srintil)
3.
Dursun 11. Istri Santayib (Ibu Srintil)
4.
Srintil 12. Dower
5.
Sakarya ( Kakek
Srintil) 13. Sulam
6.
Ki Secamenggala 14. Siti
7.
Kartareja dan Nyai
Kartareja 15. Sersan Slamet
8.
Sakum 16. Kopral Pujo
d.
Penokohan/Watak: Sifat
pemain dalam sebuah novel
1.
Rasus : bersahabat, penyayang,
pendendam, pemberani
Bukti bahwa Rasus bersahabat “ Di tepi kampung, tiga
orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong.”
(Tohari,Ahmad, 2008:4)
Bukti bahwa Rasus penyayang “ Suatu saat ku bayangkan
emak ingin pulang ke Dukuh Paruk.” (Tohari,Ahmad, 2008:49)
Bukti bahwa Rasus pendendam “ Nenek menjadi korban balas
dendamku terhadap Dukuh Paruk......” (Tohari,Ahmad, 2008:47)
Bukti bahwa Rasus pemberani “ Aku mengutuk sengit mengapa
kopral Pujo belum juga muncul. Karena tidak sabar menunggu, maka timbul
keberanianku” (Tohari,Ahmad, 2008:61)
2.
Warta : bersahabat, perhatian dan
penghibur
Bukti bahwa Warta bersahabat “ Di tepi kampung, tiga
orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong.”
(Tohari,Ahmad, 2008:4)
Bukti bahwa Warta perhatian dan penghibur “Rasus, kau
boleh sakit hati. Kau boleh cemburu. Tetapi selagi kau tak mempunyai sebuah
ringgit emas, semuanya menjadi sia-sia.” (Tohari,Ahmad, 2008:37)
“Tidak apa-apa Warta. Percayalah sahabatku, tak ada yang
salah pada diriku. Aku terharu. Suaramu memang bisa membuat siapa pun merasa
begitu terharu.” (Tohari,Ahmad, 2008:37)
3.
Dursun : bersahabat
Bukti bahwa Dursun bersahabat Di tepi kampung, tiga orang
anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong.”
(Tohari,Ahmad, 2008:4)
4.
Srintil : Bersahabat, seorang ronggeng,
agresif, Dewasa
Bukti bahwa Srintil bersahabat “ Sebelum berlari pulang.
Srintil minta jaminan besok hari Rasus dan dua orang temannya akan bersedia
kembali bermain bersama.” (Tohari,Ahmad, 2008:4)
Bukti bahwa Srintil seorang Ronggeng “ ......., Srintil
mulai menari. Matanya setengah terpeja. Sakarya yang berdiri di samping
Kartsreja memperhatikan ulah cucunya dengan seksama. Dia ingin membuktikan
bahwa dalam tubuh Srintil telah bersemayam indang ronggeng.” (Tohari,Ahmad,
2008:10)
Bukti bahwa Srintil agresif “ aku tak bergerak sedikit
pun ketika Srintil merangkulku, menciumiku. Nafasnya terdengar begitu cepat.”
(Tohari,Ahmad, 2008:38)
Bukti bahwa Srintil dewasa “ dia tidak mengharapkan uang.
Bahkan suatu ketika dia mulai berceloteh tentang bayi, tentang perkawinan.”
(Tohari,Ahmad, 2008:53)
5.
Sakarya (Kakek
Srintil): Penyayang, tega
Bukti bahwa Sakarya penyayang “dibawah lampu minyak yang
bersinar redup. Sakarya, kamitua di pedukuhan kecil itu masih merenungi ulah
cucunya sore tadi.” (Tohari,Ahmad, 2008:8)
Bukti bahwa Sakarya tega “Jangkrik!” sahutku dalam hati.
“kamu si tua bangka dengan cara memperdagangkan Srintil.” (Tohari,Ahmad,
2008:63)
6.
Ki Secamenggala :
nenek moyang asal Dukuh Paruk
Buktinya adalah “hanya Sakarya yang cepat tanggap. Kakek
Srintil itu percaya penuh Roh Ki Secamenggala telah memasuki tubuh
Kartareja.....” (Tohari,Ahmad, 2008:27)
7.
Kartareja dan Nayi
Kartareja : mistis, egois
Bukti bahwa Kartareja dan Nyai Karateja mistis “Satu hal
disembunykan oleh Nyai Kartareja terhadap siapa pun. Itu ketika dia meniuokan
mantra pekasih ke ubun-ubun Srintil.” (Tohari,Ahmad, 2008:9)
“Tiba giliran bagi Kartareja. Setelah komat-kamit
sebentar, laki-laki itu memberi aba-aba....” (Tohari,Ahmad, 2008:26)
8.
Sakum : hebat
Bukti bahwa Sakum hebat “ Sakum, dengan mata buta mampu
mengikuti secata seksama pagelaran ronggeng.” (Tohari,Ahmad, 2008:9)
9.
Nenek Rasus : linglung
Bukti bahwa Nenek Rasus pikun “ Ah, semakin tua nenekku.
Kurus dan makin bungkuk. Kasian, Nenek tidak bisa banyak bertanya kepadaku.
Linglung dia.” (Tohari,Ahmad, 2008:62)
10. Santayib (Ayah Srintil) : bertanggungjawab, keras kepala
Bukti bahwa Santayib bertanggungjawab “ Meski
Santayiborang yang paling akhir pergi tidur, namun dia pulalah pertama kali
terjaga di Dukuh Paruk.....” (Tohari,Ahmad, 2008:12)
Bukti bahwa Santayib keras kepala “Kalian, orang Dukuh
Paruk. Buka matamu, ini Santayib! Aku telah menelan seraup tempe bongrek yang
kalian katakan beracun. Dasar kalian semua, asu buntung! Aku tetap segar bugar
meski perutku penuh tempe bingrek. Kalian mau mampus, mampuslah! Jangan katakan
tempeku mengandung racun......” (Tohari,Ahmad, 2008:15)
11. Istri Santayib :
Keibuan, prihatin
Bukti bahwa Istri Santayib keibuan “ Srintil bayi yang
tahu diri. Rupanya dia tahu aku harus melayani sampean setiap pagi.” (Tohari,Ahmad,
2008:12)
Bukti bahwa Istri Santayib prihatin “Srintil kang.
Bersama siapakah nanti anak kita, kang?” (Tohari,Ahmad, 2008:16)
12. Dower :
mengusahakan segala macam cara
Bukti bahwa Dower mengusahakan “ pada saja baru ada dua
buah perak. Saya bermaksud menyerahkannya kepadamu sebagai panjar. Masih ada
waktu satu hari lagi. Barangkali besok bisa kuperoleh seringgit emas.”
(Tohari,Ahmad, 2008:34)
“Aku datang lagi kek. Meski bukan sekeping ringgit emas
yang kubawa, kuharap engkau mau menerimanya.” (Tohari,Ahmad, 2008:41)
13. Sulam :
penjudi dan berandal, sombong
Bukti bahwa Sulam penjudi dan berandal “ Dia juga kenal
siapa Sulam adanya; anak seorang lurah kaya dari seberang kampung. Meski sangat
muda, Sulam dikenal sebagai penjudi dan berandal.” (Tohari,Ahmad, 2008:42)
Bukti bahwa Sulam sombong “ Sebuah pertanyaan yang
menghina, kecuali engkau belum mengenalku. Tentu saja aku membawa sebuah
ringgit emas. Bukan rupiah perak, apalagi kerbau seperti anak pecikalan ini.”
(Tohari,Ahmad, 2008:42)
14. Siti :
alim
Bukti bahwa Siti alim “hw, jangan samakan Siti dengan
gadis-gadis di Dukuh Paruk. Dia marah karena kau memperlakukannya secara tidak
senonoh.” (Siti meleparkan singkong ke arah Rasus) (Tohari,Ahmad, 2008:50)
15. Sersan Slamet :
penyuruh, tegas
Bukti bahwa Sersan Slamet penyuruh “Pekerjaan
dimulai.peti-prti logam serta barang lainnya diangkat ke atas pundak dan kubawa
ke sebuah rumah....” (Tohari,Ahmad, 2008:54)
Bukti bahwa Sersan Slamet tegas “Katakan; ya! Kami
tentara. Kami memerlukan ketegasan dalam setiap sikap,” kata Sersan Slamet
tegas (Tohari,Ahmad, 2008:55)
16. Kopral Pujo : penakut
Bukti bahwa Kopral Pujo penakut “ mengecewakan. Ternyata
Kopral Pujo tidak lebih berani daripada aku......” (Tohari,Ahmad, 2008:60)
e.
Latar Waktu : Waktu terjadinya suatu peristiwa
dalam sebuah cerita
-
Sore hari “ ketiganya
patuh. Ceria dibawah pohon nangka itu sampai matahari menyentuh garis
vakrawala.” (Tohari,Ahmad, 2008:7)
-
Malam hari “ jadi
pada malam yang bening itu, tak ada anak Dukuh Paruk yang keluar halaman...” (Tohari,Ahmad,
2008:7)
-
Pagi hari “
menjelang fakar tiba, kudengar burung sikakat mencect si rumpun aur di belakang
rumah.” (Tohari,Ahmad, 2008:63)
f.
Latar Tempat : Tempat terjadinya suatu
peristiwa dalam sebuah cerita
-
Di bawah Pohon
Nangka “ Di pelataran yang membatu di bwah pohon nangka....” (Tohari,Ahmad,
2008:6)
-
Di Pekuburan Dukuh
Paruk“ Selesai bermain satu babak, rombongan ronggeng bergerak menuju pekuburan
Dukuh Paruk.....” (Tohari,Ahmad, 2008:26)
-
Pasar Dawuan “
Pasar Dawuan demi sedikit merenggangkan hubunganku dengan Srintil.”
(Tohari,Ahmad, 2008:50)
-
Di Hutan “ Sampai
di Hutan perburuan langsung dimulai....” (Tohari,Ahmad, 2008:56)
g.
Latar Suasana : Suasana yang terjadi dalam
sebuah cerita
-
Ceria “ Ketiganya
patuh, ceria di bawah pohon nangka itu berlanjut sampai matahari menyentuh
garis cakrawala.” (Tohari,Ahmad, 2008:7)
-
terkesima “
penonton menunda kedipan mata ketika Srintil bangkit....” (Tohari,Ahmad,
2008:10)
-
panik “ Dalam
haru-biru kepanikan itu kata-kata wuru bongkrek mulai di teriakkan orang.” (Tohari,Ahmad,
2008:13)
h.
Sudut Pandang : Pembawaan suatu cerita
-
Mulai dari halaman
4 s.d 17 Sudut pandang yang di gunakan adalah orang ketiga serba tahu karena
dapat dibuktikan seolah-olah pembawa cerita mengetahui apa yang sedang terjadi
pada saat itu “Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki bersusah-pauah
mencabut sebatang singkong.” (Tohari,Ahmad, 2008:4)
-
Mulai dari halaman
17 s.d selsai sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama sebagai pelaku
utama, karena dalam cerita dapat dibuktikan tokoh utama lebih banyak
menceritakan tentang kehidupannya sejak kecil hingga akhirnya menjadi dewasa.
Sejak Rasus berumur empat belas tahun sampai dia berhasil menjadi tentara di
usia dua puluh tahun.
i.
Gaya bahasa : Ciri-ciri pembawaan
bahasa yang terdapat dalam cerita
Gaya Bahasa yang terlihat dalam novel ini kadang
membingungkan, karena terdapat bahasa jawa dan mantra-mantra jawa.
Uluk-uluk perkutut manggung
Teka saka negndi,
Teka saba tanah sabrang
Pakanmu apa
Pakanku madu tawon
Manis madu tawon,
Ora manis kaya putuku, Srintil
(Tohari,Ahmad, 2008:10)
j.
Amanat : Pesan yang disampaikan
pengarang kepada pembaca
Jangan gampang terpengaruh dengan keadaan duniawi karena
suatu saat penyesalan akan datang dalam hidupmu, segala sesuatu akan kembali
kepadaNya. Kehidupan fana dalam hura-hura dunia dapat mencekam masa depanmu!
B.
Unsur Ekstrinsik
Novel Ronggeng Dukuh Paruk
a.
Keagamaan
(relegius)
Dalam novel ini, unsur keagamaan tidak terlalu
diperlihatkan karema warga Dukuh Paruk lebih mempercayai adanya nenek moyang
dan hal-hal animisme lainnya
b.
Kebudayaan
Dalam novel ini, banyak terdapat unsur kebudayaan
seperti: menari, menyanyi sambil nyawer, memberikan sesaji kepada nenek moyang
c.
Sosial
Dalam novel ini, unsur sosial kemasyarakatan lebih
cenderung ke arah ronggeng. Karena segala sesuatu yang berhubungan dengan
hubungan antar manusia lebih diutamakan untuk ronggeng karena bagi mereka,
adanya sosok ronggeng merupakan kebanggaan tersendiri di Dukuh Paruk
-
Latar
belakang pengarang
Latar
belakang pengarang
Ahmad
Tohari adalah sebuah nama besar dan langka di dalam khasanah kesusastraan
Indonesia. Dari karya sastra yang saya baca, nama Ahmad Tohari langgeng dan
cepat nempel di kalangan pembaca. Ketika mendengar namanya, maka asosiasi yang
muncul dari pengarang ini adalah lokalitas, tema keislaman, dan nilai kehidupan
kesederhanaan. Ronggeng Dukuh Paruk adalah salah satu bibel Ahmad
Tohari. Dengan hadirnya serangkaian karya Ahmad sebagai juru bicara
kesusastraan bertema lokal. Pengetahuan Ahmad Tohari mengenai dunia ronggeng
dan filosofinya menegaskan bahwa Ahmad Tohari adalah wakil dari suara
orang-orang yang satu daerah asalnya.
Rabu, 27 November 2013
Linguistik dilihat dari segi penerapannya
- Sebutkan manfaat leksikologi serta apa yang dihasilkan leksikologi!
- Apa perbedaan leksikologi dengan leksikostatistik?
- Apa yang dimaksud dengan bahasa induk dan bahasa proto?
- Adakah keterkaitan antara Pialektologi dengan Leksikologi? Jelaskan!
- Jelaskan pengertian Leksikostalistik!
- Ilmu yang mempelajari dan membandingkan bahasa-bahasa yang masih serumpun untuk mencari titik frasa disebut dengan?
- Linguistik dilihat dari segi penerapannya terbagi atas berapa macam? Sebutkan!
- Apa yang dimaksud Leksikologi?
- Apa yang dimaksud dengan dialektologi?
- Apa manfaat dari Leksikostatistik?
Dikotomi dalam Linguistik
Pertanyaan:
1. Terdapat sejumlah pilahan Dikotomis tentang bahasa, sebutkan pilahan-pilahan yang dimaksudkan!
2. Jelaskan pengertian kompetensi menurut Samsuri!
3. Jelaskan perbedaan Langue dan Parole!
4. Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi dan performasi?
5. Apakah yang dimaksud dengan Dikotomi?
6. Sebutkan ciri-ciri dikotomi!
7. Berikan satu contoh tentang penggabungan antara Frasa Nominal dengan Frasa Adjektival!
8. Jelaskan perbedaan antara Sintagmatik vs Paradigmatik!
9. Apa perbedaan struktur permukaan luar dengan struktur permukaan dalam menurut bahasa anda?
10. Sebutkan ciri-ciri yang terdapat pada struktur dalam!
1. Terdapat sejumlah pilahan Dikotomis tentang bahasa, sebutkan pilahan-pilahan yang dimaksudkan!
2. Jelaskan pengertian kompetensi menurut Samsuri!
3. Jelaskan perbedaan Langue dan Parole!
4. Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi dan performasi?
5. Apakah yang dimaksud dengan Dikotomi?
6. Sebutkan ciri-ciri dikotomi!
7. Berikan satu contoh tentang penggabungan antara Frasa Nominal dengan Frasa Adjektival!
8. Jelaskan perbedaan antara Sintagmatik vs Paradigmatik!
9. Apa perbedaan struktur permukaan luar dengan struktur permukaan dalam menurut bahasa anda?
10. Sebutkan ciri-ciri yang terdapat pada struktur dalam!
Linguistik Umum (Semantik dan Pragmatik) Kelompok 5
KELOMPOK 5
CRISNA YOGA PRATAMA A1B113228
EVA YULINDA SARI A1B113234
HESTI NOVIANTI A1B110206
LUTHFIA SAFITRI A1B113221
MUHAMMAD SUDRI A1B110203
NOOR LATIFAH A1B113238
SILVIA RONAULI S A1B113236
SEMANTIK DAN PRAGMATIK
Pengertian Semantik
Kata semantik sebenarnya merupakan istilah teknis yang mengacu pada studi tentang makna.Istilah ini merupakan istilah baru dalam bahasa Inggris.Para ahli bahasa memberikan pengertian semantik sebagai cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda lingual dengan hal-hal yang ditandainya (makna). Istilah lain yang pernah digunakan hal yang sama adalah semiotika, semiologi, semasiologi, dan semetik. Pembicaraan tentang makna kata pun menjadi objek semantik. Itu sebabnya Lehrer (1974:1) mengatakan bahwa semantik adalah studi tentang makna (lihat juga Lyons 1, 1977:1), bagi Lehrer semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat, dan antropologi.
2. 2 Deskripsi Semantik
Kempson (dalam Aarts dan Calbert, 1979:1) berpendapat, ada empat syarat yang harus dipenuhi untuk mendeskripsikan semantik. Keempat syarat itu adalah: 1. Teori itu harus dapat meramalkan makna setiap satuan yang muncul yang didasarkan pada satuan leksikal yang membentuk kalimat. 2. Teori itu harus merupakan seperangkat kaidah. 3. Tori itu harus membedakan kalimat yang secara gramatikal benar dan yangt tidak dilihat dari segi semantik. 4. Teori tersebut dapat meramalkan makna yang berhubungan dengan antonym, kontradiksi, sinonim. Dalam kaitannya dengan semiotik, Morris (1983) (dalam Levinson, 1983:1) mengemukakan tiga subbagian yang perlu dikaji, yakni : (i) Sintaksis (syntactic) yang mempelajari hubungan formal antara tanda dengan tanda yang lain (ii) Semantik (semantics), yakni studi tentang hubungan tanda dengan objek, (iii) Pragmatik (pragmatics), yakni studi tentang hubungan tanda dalam pemakaian. Manusia berkomunikasi melalui kalimat.Kalimat yang berunsurkan kata dan unsur suprasegmental dibebani unsure yang disebut makna, baik makna gramatikal maupun makna leksikal, yang semuanya harus ditafsirkan atau dimaknakan dalam pemakaian bahasa.Diantara pembicara dan pendengar pun terdapat unsure yang kadang-kadang tidak menampak dalam ujaran. Ujaran yang berbunyi, “Saya marah, Saudara!” terlalu banyak perlu dipersoalkan; misalnya, mengapa ia memarahi saya; apakah karena tidak meminjami uang lalu ia memarahi saya? Dan apakah akibat kemarahan itu?Kelihatannya tidak mudah mendeskripsikan semantik.Untunglah hal yang dideskripsikan masih berada di dalam ruang lingkup jangkauan manusia.
Pengertian Semantik
Kata semantik sebenarnya merupakan istilah teknis yang mengacu pada studi tentang makna.Istilah ini merupakan istilah baru dalam bahasa Inggris.Para ahli bahasa memberikan pengertian semantik sebagai cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda lingual dengan hal-hal yang ditandainya (makna). Istilah lain yang pernah digunakan hal yang sama adalah semiotika, semiologi, semasiologi, dan semetik. Pembicaraan tentang makna kata pun menjadi objek semantik. Itu sebabnya Lehrer (1974:1) mengatakan bahwa semantik adalah studi tentang makna (lihat juga Lyons 1, 1977:1), bagi Lehrer semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat, dan antropologi.
2. 2 Deskripsi Semantik
Kempson (dalam Aarts dan Calbert, 1979:1) berpendapat, ada empat syarat yang harus dipenuhi untuk mendeskripsikan semantik. Keempat syarat itu adalah: 1. Teori itu harus dapat meramalkan makna setiap satuan yang muncul yang didasarkan pada satuan leksikal yang membentuk kalimat. 2. Teori itu harus merupakan seperangkat kaidah. 3. Tori itu harus membedakan kalimat yang secara gramatikal benar dan yangt tidak dilihat dari segi semantik. 4. Teori tersebut dapat meramalkan makna yang berhubungan dengan antonym, kontradiksi, sinonim. Dalam kaitannya dengan semiotik, Morris (1983) (dalam Levinson, 1983:1) mengemukakan tiga subbagian yang perlu dikaji, yakni : (i) Sintaksis (syntactic) yang mempelajari hubungan formal antara tanda dengan tanda yang lain (ii) Semantik (semantics), yakni studi tentang hubungan tanda dengan objek, (iii) Pragmatik (pragmatics), yakni studi tentang hubungan tanda dalam pemakaian. Manusia berkomunikasi melalui kalimat.Kalimat yang berunsurkan kata dan unsur suprasegmental dibebani unsure yang disebut makna, baik makna gramatikal maupun makna leksikal, yang semuanya harus ditafsirkan atau dimaknakan dalam pemakaian bahasa.Diantara pembicara dan pendengar pun terdapat unsure yang kadang-kadang tidak menampak dalam ujaran. Ujaran yang berbunyi, “Saya marah, Saudara!” terlalu banyak perlu dipersoalkan; misalnya, mengapa ia memarahi saya; apakah karena tidak meminjami uang lalu ia memarahi saya? Dan apakah akibat kemarahan itu?Kelihatannya tidak mudah mendeskripsikan semantik.Untunglah hal yang dideskripsikan masih berada di dalam ruang lingkup jangkauan manusia.
2.3 Klasifikasi Makna
Makna dapat diklasifikasikan atas beberapa kemungkinan sebagai mana diuraikan berikut ini
1. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
• Makna
leksikal adalah makna leksikon/leksen atau kata yang berdiri sendiri,
tidak berada dalam konteks, atau terlepas dari konteks..Begitu kata amplop dapat diberi makna
“sampul surat”, dengan tanpa menggunakan kata itu dalam konteks.Maka
makna “sampul surat” yang terkandung dalam kata amplop itu merupakan
makna leksikal.
• Makna gramatikal merupakan makna yang timbul karena
peristiwa gramatikal. Makna gramatikal itu dikenali dalam kaitannya
dengan unsur yang lain dalam satuan gramatikal.. Dalam konteks itu, kata amplop, misalnya, tidak lagi
bermakna “sampul surat”..
2. Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna denotatif merupakan
makna dasar suatu kata atau satuan bahasa yang bebas dari nilai
rasa.
Makna konotatif adalah makna kata atau satuan lingual yang
merupakan makna tambahan, yang berupa nilai rasa.Nilai rasa itu bisa
bersifat positif, bersifat negatif, bersifat halus, atau bersifat kasar.
Dua buah kata atau lebih memiliki makna denotatif yang sama.
Perbedaannya terletak pada makna konotatifnya. Kata kamu dan anda,
misalnya, memiliki makna denotatif yang sama, yakni “orang kedua
tunggal”. Kedua kata itu berbeda makna konotatifnya .Kata kamu
berkonotasi “kasar”, kecuali bagi orang-orang Tapanuli/Batak, dan kata
anda berkonotasi halus.Demikian juga kata dia dan beliau. Kedua kata itu
berdenotasi “orang ketiga tunggal”, tetapi kata dia tidak berkonotasi
“hormat”, sedangkan kata beliau berkonotasi “hormat”. Dengan kata lain,
kata beliau bermakna konotasi “positif”, sedangkan kata dia tidak
berkonotasi “positif”. Karena tidak berkonotasi “negatif”, kata dia
dapat ditafsirkan berkonotasi “netral” (periksa Chair, 1990:68). Nilai
positif dan negatif yang menjadi ukuran nilai rasa, dapat dinyatakan
dengan berbagai cara. Hormat dan tidak hormat menggambarkan nilai
rasa.Sopan dan tidak sopan juga menggambarkan nilai rasa.
3. Makna Lugas
dan Makna Kias Makna lugas merupakan makna yang sebenarnya.
Makna lugas disebut juga makna langsung, makna yang belum menyimpang atau belum mengalami penyimpangan.
Makna lugas disebut juga makna langsung, makna yang belum menyimpang atau belum mengalami penyimpangan.
Makna kias adalah makna
yang sudah menyimpang dalam bentuk ada pengiasan hal atau benda yang
dimaksudkan penutur dengan hal atau benda yang sebenarnya.
.4. Makna Luas dan Makna Sempit
Dilihat dari segi cakupan atau tingkat keluasan makna dua buah kata,
makna dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni makna luas dan makna
sempit.Makna luas merupakan akibat perkembangan makna suatu tanda
bahasa.. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita
dengar juga ungkapan “dalam arti luas” atau “dalam arti sempit”, seperti
yang dapat dikenakan pada kata taqwa. Kata taqwa itu dalam arti luas
adalah “berserah diri kepada Allah” dan dalam arti sempit adalah
“menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala
larangan-larangan-Nya”.Dengan demikian, makna luas dan makna sempit itu
tidak hanya karena perubahan makna, tetapi juga karena tingkat cakupan
makna yang sudah terkotak menjadi dua, yakni makna luas dan makna
sempit.
2.4 Relasi Makna
Antarmakna dua tanda bahasa atau lebih dapat berelasi.Dalam kajian semantik, relasi makna-makna itu dipilah-pilah atas sejumlah kategori.
2.4 Relasi Makna
Antarmakna dua tanda bahasa atau lebih dapat berelasi.Dalam kajian semantik, relasi makna-makna itu dipilah-pilah atas sejumlah kategori.
1. Sinonimi Sinonim
atau sinonimi adalah hubungan semantic yang menyatakan adanya kesamaan
makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya,
antara kata betul dengan kata benar. Dua buah ujaran yang bersinonim
maknanya tidak akan persis sama.
2.5 Perubahan Makna
Sebab-Sebab Perubahan Makna Perubahan makna yang pertama, perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.adanya perkembangan keilmuan dan teknologi dapat menyebabkan sebuah kata yang pada mulanya bermakna A menjadi bermakna B atau bermakna C.Misalnya, kata sastra ‘tulisan, huruf’lalu berubah menjadi bermakna ‘bacaan’; kemudian berubah lagi menjadi bermakna ‘buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya’. Selanjutnya, berkembang lagi menjadi ‘karya bahasa yang bersifat imaginative dan kreatif’.Perubahan makna kata sastra seperti yang kita sebutkan itu adalah karena berkembangnya atau berubahnya konsep tentang sastra itu didalam ilmu sussastra.
2. 6 Analisis Makna
Makna merupakan kesatuan mental pengetahuan dan pengalaman yang terkait dengan lambang bahasa yang mewakilinya..Sebagai contoh, konsep kata mobil diwakili mobil sedan yang merupakan prototipe konsep mobil.Untuk menentukan apakah satu kata masih termasuk dalam kategori mobil atau tidak, kata itu harus dibandingkan dengan prototipe mobil.Misalnya, bus secara pasti dapat dimasukkan dalam kategori mobil, tetapi bajaj lebih sulit untuk dimasukkan dalam kategori mobil, karena jarak bajaj dari mobil sedan lebih jauh daripada jarak bus dengan mobul sedan yang memiliki lebih banyak persamaan.
3. 1 Pengertian Pragmatik
Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
3. 2 Interaksi dan Sopan Santun
Seperti telah dikatakan di awal bab ini, hal-hal di luar bahasa mempengaruhi pemahaman kita pada hal di dalam bahasa. Untuk memahami apa yang terjadi di dalam sebuah percakapan, misalnya, kita perlu mengetahui siapa saja yang terlibat di dalamnya, bagaimana hubungan dan jarak sosial di antara mereka, atau status relatif di anatara mereka. Marilah kita perhatikan penggalan-penggalan percakapan berikut ini.
2.5 Perubahan Makna
Sebab-Sebab Perubahan Makna Perubahan makna yang pertama, perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.adanya perkembangan keilmuan dan teknologi dapat menyebabkan sebuah kata yang pada mulanya bermakna A menjadi bermakna B atau bermakna C.Misalnya, kata sastra ‘tulisan, huruf’lalu berubah menjadi bermakna ‘bacaan’; kemudian berubah lagi menjadi bermakna ‘buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya’. Selanjutnya, berkembang lagi menjadi ‘karya bahasa yang bersifat imaginative dan kreatif’.Perubahan makna kata sastra seperti yang kita sebutkan itu adalah karena berkembangnya atau berubahnya konsep tentang sastra itu didalam ilmu sussastra.
2. 6 Analisis Makna
Makna merupakan kesatuan mental pengetahuan dan pengalaman yang terkait dengan lambang bahasa yang mewakilinya..Sebagai contoh, konsep kata mobil diwakili mobil sedan yang merupakan prototipe konsep mobil.Untuk menentukan apakah satu kata masih termasuk dalam kategori mobil atau tidak, kata itu harus dibandingkan dengan prototipe mobil.Misalnya, bus secara pasti dapat dimasukkan dalam kategori mobil, tetapi bajaj lebih sulit untuk dimasukkan dalam kategori mobil, karena jarak bajaj dari mobil sedan lebih jauh daripada jarak bus dengan mobul sedan yang memiliki lebih banyak persamaan.
3. 1 Pengertian Pragmatik
Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
3. 2 Interaksi dan Sopan Santun
Seperti telah dikatakan di awal bab ini, hal-hal di luar bahasa mempengaruhi pemahaman kita pada hal di dalam bahasa. Untuk memahami apa yang terjadi di dalam sebuah percakapan, misalnya, kita perlu mengetahui siapa saja yang terlibat di dalamnya, bagaimana hubungan dan jarak sosial di antara mereka, atau status relatif di anatara mereka. Marilah kita perhatikan penggalan-penggalan percakapan berikut ini.
(1)
A: Setelah ini, kerjakan yang lain.
B: Baik, Bu.
(2) C: Bantuin, dong!
D: Sabar sedikit kenapa, sih?
3.3 Implikatur Percakapan
Di dalam bagian sebelumnya kita telah melihat bahwa di dalam percakapan seorang pembicara mempunyai maksud tertentu ketika mengujarkan sesuatu.Maksud yang terkandung di dalam ujaran ini disebut implikatur. Pembicara di dalam percakapan harus berusaha agar apa yang dikatakannya relevan denga situasi di dalam percakapan itu, jelas dan mudah dipahami oleh pendengarnya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa ada kaidah-kaidah yang harus ditaati oleh pembicara agar percakapan dapat berjalan lancar. Kaidah-kaidah ini, di dalam kajian pragmatic, dikenal sebagai prinsip kerja sama.
3.3 Implikatur Percakapan
Di dalam bagian sebelumnya kita telah melihat bahwa di dalam percakapan seorang pembicara mempunyai maksud tertentu ketika mengujarkan sesuatu.Maksud yang terkandung di dalam ujaran ini disebut implikatur. Pembicara di dalam percakapan harus berusaha agar apa yang dikatakannya relevan denga situasi di dalam percakapan itu, jelas dan mudah dipahami oleh pendengarnya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa ada kaidah-kaidah yang harus ditaati oleh pembicara agar percakapan dapat berjalan lancar. Kaidah-kaidah ini, di dalam kajian pragmatic, dikenal sebagai prinsip kerja sama.
Anak gadis saya yang
perempuan sudah punya pacar. Di dalam kalimat kata gadis sudah
mencakup makan ‘perempuan’ sehingga kata perempuan dalam kalimat
tersebut memberikan kontribusi yang berlebih.
3.4 Pelanggaran Terhadap Maksim Percakapan
Pelanggaran terhadap maksim percakapan akan menimbulkan kesan yang janggal, kejanggalan itu dapat terjadi jika informasi yang diberikan berlebihan, tidak benar, tidak relevan, atau berbelit-belit. Kejanggalan inilah yang biasanya dimanfaatkan di dalam humor.Ada berbagai bentuk pelanggaran di dalam maksim-maksim percakapan.Tentu kita pun pernah mengalami situasi yang janggal karena ada pembicara yang bertele-tele menyampaikan maksudnya, ada kesalahpahaman, ketidaksinkronan, dan sebagainya. Pengetahaun kita mengenai maksim-maksim di atas akan sangat membantu kita dalam memahami situasi yang demikian.
3. 5 Pertuturan
1. Asertif, yang melibatkan penutur kepada kebenaran atau kecocokan proposisi, misalnya menyatakan, menyarankan, dan melaporkan.
3.4 Pelanggaran Terhadap Maksim Percakapan
Pelanggaran terhadap maksim percakapan akan menimbulkan kesan yang janggal, kejanggalan itu dapat terjadi jika informasi yang diberikan berlebihan, tidak benar, tidak relevan, atau berbelit-belit. Kejanggalan inilah yang biasanya dimanfaatkan di dalam humor.Ada berbagai bentuk pelanggaran di dalam maksim-maksim percakapan.Tentu kita pun pernah mengalami situasi yang janggal karena ada pembicara yang bertele-tele menyampaikan maksudnya, ada kesalahpahaman, ketidaksinkronan, dan sebagainya. Pengetahaun kita mengenai maksim-maksim di atas akan sangat membantu kita dalam memahami situasi yang demikian.
3. 5 Pertuturan
1. Asertif, yang melibatkan penutur kepada kebenaran atau kecocokan proposisi, misalnya menyatakan, menyarankan, dan melaporkan.
2.
Direktif, yang tujuannya adalah tanggapan berupa tindakan dari mitra
tutur, misalnya menyuruh, memerintahkan, meminta, memohon, dan
mengingatkan.
3. Komisif, yang melibatkan penutur dengan tindakan atau
akibat selanjutnya, misalnya berjanji, bersumpah, dan mengancam.
4.
Ekspresif, yang memperlihatkan sikap penutur pada keadaan tertentu,
misalnya berterima kasih, mengucapkan selamat, memuji, menyalahkan,
memaafkan, dan meminta maaf.
5. Deklaratif, yang menunjukkan perubahan
setelah diujarkan, misalnya membaptiskan, menceraikan, menikahkan, dan
menyatakan.
3.6 Referensi dan Inferensi
Referensi adalah hubungan di antara unsur luar bahasa yang ditunjuk oleh unsur bahasa dengan lambang yang dipakai untuk mewakili atau menggambarkannya. Referensi di dalam kajian pragmatik merupakan cara merujuk sesuatu melalui bentuk bahasa yang dipakai oleh penutur atau penulis untuk menyampaikan sesuatu kepada mitra tutur atau pembaca. Berkaitan dengan referensi adalah inferensi. Inferensi adalah pengetahuan tambahan yang dipakai oleh mitra tutur atau pembaca untuk memahami apa yang tidak diungkapkan secara eksplisit di dalam ujaran. Untuk memahami referensi dan inferensi, mari kita perhatikan kalimat-kalimat berikut ini. (1) Seseorang suka mendengarkan musik dangdut. (2) Orang itu suka mendengarkan musik dangdut. (3) Orang suka mendengarkan musik dangdut. Sebagai penutur bahasa Indonesia, kita mengetahui bahwa seseorang adalah ‘orang yang tidak dikenal’ dan orang itu adalah orang yang ada didekat kita bicara. Kalimat (1) diatas mempunyai referensi tak takrif, artinya referensi yang tidak tentu. Kalimat (2) mempunyai takrif, apa yang dirujuknya jelas dan bertolak pada rujukan tertentu, sedangkan kalimat (3) mempunyai referensi generic, tidak merujuk kepada sesuatu yang khusus, dan lebih menekankan pada sesuatu yang umum.
3. 7 Deiksis
Deiksis adalah cara merujuk pada suatu hal yang berkaitanerat dengan konteks penutur. Dengan demikian, ada rujukan yang ‘berasal dari penutur’, ‘dekat dengan penutur’ dan ‘jauh dari penutur’. Ada tiga jenis deiksis, yaitu deiksis ruang, deiksis persona, dan deiksis waktu. Ketiga jenis deiksis ini bergantung pada interpretasi penutur dan mitra tutur, atau penulis dan pembaca, yang berada di dalam konteks yang sama.
a. Deiksis Ruang
Deiksis ruang berkaitan dengan lokasi relative penutur dan mitra tutur yang terlibat di dalam interaksi. Di dalam bahasa Indonesia, misalnya, kita mengenal di sini, di situ, dan di sana. Titik tolak penutur diungkapkan dengan ini dan itu.Marilah kita lihat contoh berikut.A dan B sedang terlibat di dalam percakapan.A mengambil sepotong kue dan mengatakan, “Kue ini enak.”Apa yang ditunjuk oleh A, kue ini, tentu akan disebut B sebagai kue itu. Hal ini terjadi karena titik tolak A dan B berbeda. Kita juga mengenal kata-kata seperti di sini, di situ dan ini merujuk kepada sesuatu yang kelihatan atau jaraknya terjangkau oleh penutur. Selain itu, ada kata-kata seperti di sana dan itu yang merujuk pada sesuatu yang jauh atau tidak kelihatan, atau jaraknya tidak terjangkau oleh penutur. Dalam hal tertentu, tindakan kita sering kali bertalian dengan ruang. Jika kita hendak menunjukkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu, misalnya kita memakai kata begini. Jika kita hendak merujuk kepada suatu tindakan., kita memakai kata begitu.
b. Deiksis Persona
Deiksis persona dapat dilihat pada bentuk-bentuk pronominal.Bentuk-bentuk pronominal itu sendiri dibedakan atas pronominal orang pertama, pronominal orang kedua, dan pronominal orang ketiga.Di dalam bahasa Indonesia, bentuk ini masih dibedakan atas bentuk tunggal dan bentuk jamak sebagai berikut. Tunggal Jamak Orang pertama Orang kedua Orang ketiga aku, saya engkau, kau, kamu, anda ia, dia, beliau kami, kita kamu, kalian mereka Kadang-kadang penutur bahasa menyebut dirinya dengan namanya sendiri. Di antara penutur bahasa Indonesia, sapaan kepada orang kedua tidak hanya kamu atau saya, melaikan juga Bapak, Ibu, atau Saudara.
c. Deiksis Waktu
Deiksis waktu berkaitan dengan waktu relative penutur atau penulis dan mitra tutur atau pembaca.Pengungkapan waktu di dalam setiap bahasa berbeda-beda.Ada yang mengungkapkannya secara leksikal, yaitu dengan kata tertentu. Bahasa Indonesia mengungkapkan waktu dengan sekarang untuk waktu kini, tadi dan dulu untuk waktu lampau, nanti untuk waktu yang akan datang. Hari ini, kemarin dan besok juga merupakan hal yang relatif, dilihat dari kapan suatu ujaran diucapkan.
3.6 Referensi dan Inferensi
Referensi adalah hubungan di antara unsur luar bahasa yang ditunjuk oleh unsur bahasa dengan lambang yang dipakai untuk mewakili atau menggambarkannya. Referensi di dalam kajian pragmatik merupakan cara merujuk sesuatu melalui bentuk bahasa yang dipakai oleh penutur atau penulis untuk menyampaikan sesuatu kepada mitra tutur atau pembaca. Berkaitan dengan referensi adalah inferensi. Inferensi adalah pengetahuan tambahan yang dipakai oleh mitra tutur atau pembaca untuk memahami apa yang tidak diungkapkan secara eksplisit di dalam ujaran. Untuk memahami referensi dan inferensi, mari kita perhatikan kalimat-kalimat berikut ini. (1) Seseorang suka mendengarkan musik dangdut. (2) Orang itu suka mendengarkan musik dangdut. (3) Orang suka mendengarkan musik dangdut. Sebagai penutur bahasa Indonesia, kita mengetahui bahwa seseorang adalah ‘orang yang tidak dikenal’ dan orang itu adalah orang yang ada didekat kita bicara. Kalimat (1) diatas mempunyai referensi tak takrif, artinya referensi yang tidak tentu. Kalimat (2) mempunyai takrif, apa yang dirujuknya jelas dan bertolak pada rujukan tertentu, sedangkan kalimat (3) mempunyai referensi generic, tidak merujuk kepada sesuatu yang khusus, dan lebih menekankan pada sesuatu yang umum.
3. 7 Deiksis
Deiksis adalah cara merujuk pada suatu hal yang berkaitanerat dengan konteks penutur. Dengan demikian, ada rujukan yang ‘berasal dari penutur’, ‘dekat dengan penutur’ dan ‘jauh dari penutur’. Ada tiga jenis deiksis, yaitu deiksis ruang, deiksis persona, dan deiksis waktu. Ketiga jenis deiksis ini bergantung pada interpretasi penutur dan mitra tutur, atau penulis dan pembaca, yang berada di dalam konteks yang sama.
a. Deiksis Ruang
Deiksis ruang berkaitan dengan lokasi relative penutur dan mitra tutur yang terlibat di dalam interaksi. Di dalam bahasa Indonesia, misalnya, kita mengenal di sini, di situ, dan di sana. Titik tolak penutur diungkapkan dengan ini dan itu.Marilah kita lihat contoh berikut.A dan B sedang terlibat di dalam percakapan.A mengambil sepotong kue dan mengatakan, “Kue ini enak.”Apa yang ditunjuk oleh A, kue ini, tentu akan disebut B sebagai kue itu. Hal ini terjadi karena titik tolak A dan B berbeda. Kita juga mengenal kata-kata seperti di sini, di situ dan ini merujuk kepada sesuatu yang kelihatan atau jaraknya terjangkau oleh penutur. Selain itu, ada kata-kata seperti di sana dan itu yang merujuk pada sesuatu yang jauh atau tidak kelihatan, atau jaraknya tidak terjangkau oleh penutur. Dalam hal tertentu, tindakan kita sering kali bertalian dengan ruang. Jika kita hendak menunjukkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu, misalnya kita memakai kata begini. Jika kita hendak merujuk kepada suatu tindakan., kita memakai kata begitu.
b. Deiksis Persona
Deiksis persona dapat dilihat pada bentuk-bentuk pronominal.Bentuk-bentuk pronominal itu sendiri dibedakan atas pronominal orang pertama, pronominal orang kedua, dan pronominal orang ketiga.Di dalam bahasa Indonesia, bentuk ini masih dibedakan atas bentuk tunggal dan bentuk jamak sebagai berikut. Tunggal Jamak Orang pertama Orang kedua Orang ketiga aku, saya engkau, kau, kamu, anda ia, dia, beliau kami, kita kamu, kalian mereka Kadang-kadang penutur bahasa menyebut dirinya dengan namanya sendiri. Di antara penutur bahasa Indonesia, sapaan kepada orang kedua tidak hanya kamu atau saya, melaikan juga Bapak, Ibu, atau Saudara.
c. Deiksis Waktu
Deiksis waktu berkaitan dengan waktu relative penutur atau penulis dan mitra tutur atau pembaca.Pengungkapan waktu di dalam setiap bahasa berbeda-beda.Ada yang mengungkapkannya secara leksikal, yaitu dengan kata tertentu. Bahasa Indonesia mengungkapkan waktu dengan sekarang untuk waktu kini, tadi dan dulu untuk waktu lampau, nanti untuk waktu yang akan datang. Hari ini, kemarin dan besok juga merupakan hal yang relatif, dilihat dari kapan suatu ujaran diucapkan.
4. 1 Hubungan Semantik Dan Pragmatik.
Semantik dan pragmatik keduanya mengkaji
makna, namun makna yang menjadi kajian semantik adalah makna linguistik
(linguistic meaning) yang bebas konteks, sedangkan makna yang dikaji
oleh pragmatik adalah maksud penutur (speaker meaning) yang terkait
dengan konteks. Dengan kata lain, semantik mempelajari makna secara
internal, yaitu makna literal danterpisah dari situasi, penutur dan
petuturnya. Akan tetapi, pragmatik mempelajari makna secara eksternal,
yaitu berhubungan langsung dengan penutur atau pemakai bahasa. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa antara Semantik dan pragmatik memiliki
hubungan yang saling melengkapi (komplementer).
Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua segi (dyadic) mencakup bentuk dan makna, sedangkan pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga segi (triadic) yang mencakup bentuk, makna, dan konteks.
Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua segi (dyadic) mencakup bentuk dan makna, sedangkan pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga segi (triadic) yang mencakup bentuk, makna, dan konteks.
Langganan:
Postingan (Atom)

