KELOMPOK 5
CRISNA YOGA PRATAMA A1B113228
EVA YULINDA SARI A1B113234
HESTI NOVIANTI A1B110206
LUTHFIA SAFITRI A1B113221
MUHAMMAD SUDRI A1B110203
NOOR LATIFAH A1B113238
SILVIA RONAULI S A1B113236
SEMANTIK DAN PRAGMATIK
Pengertian Semantik
Kata semantik sebenarnya merupakan istilah teknis yang mengacu pada studi tentang makna.Istilah ini merupakan istilah baru dalam bahasa Inggris.Para ahli bahasa memberikan pengertian semantik sebagai cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda lingual dengan hal-hal yang ditandainya (makna). Istilah lain yang pernah digunakan hal yang sama adalah semiotika, semiologi, semasiologi, dan semetik. Pembicaraan tentang makna kata pun menjadi objek semantik. Itu sebabnya Lehrer (1974:1) mengatakan bahwa semantik adalah studi tentang makna (lihat juga Lyons 1, 1977:1), bagi Lehrer semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat, dan antropologi.
2. 2 Deskripsi Semantik
Kempson (dalam Aarts dan Calbert, 1979:1) berpendapat, ada empat syarat yang harus dipenuhi untuk mendeskripsikan semantik. Keempat syarat itu adalah: 1. Teori itu harus dapat meramalkan makna setiap satuan yang muncul yang didasarkan pada satuan leksikal yang membentuk kalimat. 2. Teori itu harus merupakan seperangkat kaidah. 3. Tori itu harus membedakan kalimat yang secara gramatikal benar dan yangt tidak dilihat dari segi semantik. 4. Teori tersebut dapat meramalkan makna yang berhubungan dengan antonym, kontradiksi, sinonim. Dalam kaitannya dengan semiotik, Morris (1983) (dalam Levinson, 1983:1) mengemukakan tiga subbagian yang perlu dikaji, yakni : (i) Sintaksis (syntactic) yang mempelajari hubungan formal antara tanda dengan tanda yang lain (ii) Semantik (semantics), yakni studi tentang hubungan tanda dengan objek, (iii) Pragmatik (pragmatics), yakni studi tentang hubungan tanda dalam pemakaian. Manusia berkomunikasi melalui kalimat.Kalimat yang berunsurkan kata dan unsur suprasegmental dibebani unsure yang disebut makna, baik makna gramatikal maupun makna leksikal, yang semuanya harus ditafsirkan atau dimaknakan dalam pemakaian bahasa.Diantara pembicara dan pendengar pun terdapat unsure yang kadang-kadang tidak menampak dalam ujaran. Ujaran yang berbunyi, “Saya marah, Saudara!” terlalu banyak perlu dipersoalkan; misalnya, mengapa ia memarahi saya; apakah karena tidak meminjami uang lalu ia memarahi saya? Dan apakah akibat kemarahan itu?Kelihatannya tidak mudah mendeskripsikan semantik.Untunglah hal yang dideskripsikan masih berada di dalam ruang lingkup jangkauan manusia.
Pengertian Semantik
Kata semantik sebenarnya merupakan istilah teknis yang mengacu pada studi tentang makna.Istilah ini merupakan istilah baru dalam bahasa Inggris.Para ahli bahasa memberikan pengertian semantik sebagai cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda lingual dengan hal-hal yang ditandainya (makna). Istilah lain yang pernah digunakan hal yang sama adalah semiotika, semiologi, semasiologi, dan semetik. Pembicaraan tentang makna kata pun menjadi objek semantik. Itu sebabnya Lehrer (1974:1) mengatakan bahwa semantik adalah studi tentang makna (lihat juga Lyons 1, 1977:1), bagi Lehrer semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat, dan antropologi.
2. 2 Deskripsi Semantik
Kempson (dalam Aarts dan Calbert, 1979:1) berpendapat, ada empat syarat yang harus dipenuhi untuk mendeskripsikan semantik. Keempat syarat itu adalah: 1. Teori itu harus dapat meramalkan makna setiap satuan yang muncul yang didasarkan pada satuan leksikal yang membentuk kalimat. 2. Teori itu harus merupakan seperangkat kaidah. 3. Tori itu harus membedakan kalimat yang secara gramatikal benar dan yangt tidak dilihat dari segi semantik. 4. Teori tersebut dapat meramalkan makna yang berhubungan dengan antonym, kontradiksi, sinonim. Dalam kaitannya dengan semiotik, Morris (1983) (dalam Levinson, 1983:1) mengemukakan tiga subbagian yang perlu dikaji, yakni : (i) Sintaksis (syntactic) yang mempelajari hubungan formal antara tanda dengan tanda yang lain (ii) Semantik (semantics), yakni studi tentang hubungan tanda dengan objek, (iii) Pragmatik (pragmatics), yakni studi tentang hubungan tanda dalam pemakaian. Manusia berkomunikasi melalui kalimat.Kalimat yang berunsurkan kata dan unsur suprasegmental dibebani unsure yang disebut makna, baik makna gramatikal maupun makna leksikal, yang semuanya harus ditafsirkan atau dimaknakan dalam pemakaian bahasa.Diantara pembicara dan pendengar pun terdapat unsure yang kadang-kadang tidak menampak dalam ujaran. Ujaran yang berbunyi, “Saya marah, Saudara!” terlalu banyak perlu dipersoalkan; misalnya, mengapa ia memarahi saya; apakah karena tidak meminjami uang lalu ia memarahi saya? Dan apakah akibat kemarahan itu?Kelihatannya tidak mudah mendeskripsikan semantik.Untunglah hal yang dideskripsikan masih berada di dalam ruang lingkup jangkauan manusia.
2.3 Klasifikasi Makna
Makna dapat diklasifikasikan atas beberapa kemungkinan sebagai mana diuraikan berikut ini
1. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
• Makna
leksikal adalah makna leksikon/leksen atau kata yang berdiri sendiri,
tidak berada dalam konteks, atau terlepas dari konteks..Begitu kata amplop dapat diberi makna
“sampul surat”, dengan tanpa menggunakan kata itu dalam konteks.Maka
makna “sampul surat” yang terkandung dalam kata amplop itu merupakan
makna leksikal.
• Makna gramatikal merupakan makna yang timbul karena
peristiwa gramatikal. Makna gramatikal itu dikenali dalam kaitannya
dengan unsur yang lain dalam satuan gramatikal.. Dalam konteks itu, kata amplop, misalnya, tidak lagi
bermakna “sampul surat”..
2. Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna denotatif merupakan
makna dasar suatu kata atau satuan bahasa yang bebas dari nilai
rasa.
Makna konotatif adalah makna kata atau satuan lingual yang
merupakan makna tambahan, yang berupa nilai rasa.Nilai rasa itu bisa
bersifat positif, bersifat negatif, bersifat halus, atau bersifat kasar.
Dua buah kata atau lebih memiliki makna denotatif yang sama.
Perbedaannya terletak pada makna konotatifnya. Kata kamu dan anda,
misalnya, memiliki makna denotatif yang sama, yakni “orang kedua
tunggal”. Kedua kata itu berbeda makna konotatifnya .Kata kamu
berkonotasi “kasar”, kecuali bagi orang-orang Tapanuli/Batak, dan kata
anda berkonotasi halus.Demikian juga kata dia dan beliau. Kedua kata itu
berdenotasi “orang ketiga tunggal”, tetapi kata dia tidak berkonotasi
“hormat”, sedangkan kata beliau berkonotasi “hormat”. Dengan kata lain,
kata beliau bermakna konotasi “positif”, sedangkan kata dia tidak
berkonotasi “positif”. Karena tidak berkonotasi “negatif”, kata dia
dapat ditafsirkan berkonotasi “netral” (periksa Chair, 1990:68). Nilai
positif dan negatif yang menjadi ukuran nilai rasa, dapat dinyatakan
dengan berbagai cara. Hormat dan tidak hormat menggambarkan nilai
rasa.Sopan dan tidak sopan juga menggambarkan nilai rasa.
3. Makna Lugas
dan Makna Kias Makna lugas merupakan makna yang sebenarnya.
Makna lugas disebut juga makna langsung, makna yang belum menyimpang atau belum mengalami penyimpangan.
Makna lugas disebut juga makna langsung, makna yang belum menyimpang atau belum mengalami penyimpangan.
Makna kias adalah makna
yang sudah menyimpang dalam bentuk ada pengiasan hal atau benda yang
dimaksudkan penutur dengan hal atau benda yang sebenarnya.
.4. Makna Luas dan Makna Sempit
Dilihat dari segi cakupan atau tingkat keluasan makna dua buah kata,
makna dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni makna luas dan makna
sempit.Makna luas merupakan akibat perkembangan makna suatu tanda
bahasa.. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita
dengar juga ungkapan “dalam arti luas” atau “dalam arti sempit”, seperti
yang dapat dikenakan pada kata taqwa. Kata taqwa itu dalam arti luas
adalah “berserah diri kepada Allah” dan dalam arti sempit adalah
“menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala
larangan-larangan-Nya”.Dengan demikian, makna luas dan makna sempit itu
tidak hanya karena perubahan makna, tetapi juga karena tingkat cakupan
makna yang sudah terkotak menjadi dua, yakni makna luas dan makna
sempit.
2.4 Relasi Makna
Antarmakna dua tanda bahasa atau lebih dapat berelasi.Dalam kajian semantik, relasi makna-makna itu dipilah-pilah atas sejumlah kategori.
2.4 Relasi Makna
Antarmakna dua tanda bahasa atau lebih dapat berelasi.Dalam kajian semantik, relasi makna-makna itu dipilah-pilah atas sejumlah kategori.
1. Sinonimi Sinonim
atau sinonimi adalah hubungan semantic yang menyatakan adanya kesamaan
makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya,
antara kata betul dengan kata benar. Dua buah ujaran yang bersinonim
maknanya tidak akan persis sama.
2.5 Perubahan Makna
Sebab-Sebab Perubahan Makna Perubahan makna yang pertama, perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.adanya perkembangan keilmuan dan teknologi dapat menyebabkan sebuah kata yang pada mulanya bermakna A menjadi bermakna B atau bermakna C.Misalnya, kata sastra ‘tulisan, huruf’lalu berubah menjadi bermakna ‘bacaan’; kemudian berubah lagi menjadi bermakna ‘buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya’. Selanjutnya, berkembang lagi menjadi ‘karya bahasa yang bersifat imaginative dan kreatif’.Perubahan makna kata sastra seperti yang kita sebutkan itu adalah karena berkembangnya atau berubahnya konsep tentang sastra itu didalam ilmu sussastra.
2. 6 Analisis Makna
Makna merupakan kesatuan mental pengetahuan dan pengalaman yang terkait dengan lambang bahasa yang mewakilinya..Sebagai contoh, konsep kata mobil diwakili mobil sedan yang merupakan prototipe konsep mobil.Untuk menentukan apakah satu kata masih termasuk dalam kategori mobil atau tidak, kata itu harus dibandingkan dengan prototipe mobil.Misalnya, bus secara pasti dapat dimasukkan dalam kategori mobil, tetapi bajaj lebih sulit untuk dimasukkan dalam kategori mobil, karena jarak bajaj dari mobil sedan lebih jauh daripada jarak bus dengan mobul sedan yang memiliki lebih banyak persamaan.
3. 1 Pengertian Pragmatik
Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
3. 2 Interaksi dan Sopan Santun
Seperti telah dikatakan di awal bab ini, hal-hal di luar bahasa mempengaruhi pemahaman kita pada hal di dalam bahasa. Untuk memahami apa yang terjadi di dalam sebuah percakapan, misalnya, kita perlu mengetahui siapa saja yang terlibat di dalamnya, bagaimana hubungan dan jarak sosial di antara mereka, atau status relatif di anatara mereka. Marilah kita perhatikan penggalan-penggalan percakapan berikut ini.
2.5 Perubahan Makna
Sebab-Sebab Perubahan Makna Perubahan makna yang pertama, perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.adanya perkembangan keilmuan dan teknologi dapat menyebabkan sebuah kata yang pada mulanya bermakna A menjadi bermakna B atau bermakna C.Misalnya, kata sastra ‘tulisan, huruf’lalu berubah menjadi bermakna ‘bacaan’; kemudian berubah lagi menjadi bermakna ‘buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya’. Selanjutnya, berkembang lagi menjadi ‘karya bahasa yang bersifat imaginative dan kreatif’.Perubahan makna kata sastra seperti yang kita sebutkan itu adalah karena berkembangnya atau berubahnya konsep tentang sastra itu didalam ilmu sussastra.
2. 6 Analisis Makna
Makna merupakan kesatuan mental pengetahuan dan pengalaman yang terkait dengan lambang bahasa yang mewakilinya..Sebagai contoh, konsep kata mobil diwakili mobil sedan yang merupakan prototipe konsep mobil.Untuk menentukan apakah satu kata masih termasuk dalam kategori mobil atau tidak, kata itu harus dibandingkan dengan prototipe mobil.Misalnya, bus secara pasti dapat dimasukkan dalam kategori mobil, tetapi bajaj lebih sulit untuk dimasukkan dalam kategori mobil, karena jarak bajaj dari mobil sedan lebih jauh daripada jarak bus dengan mobul sedan yang memiliki lebih banyak persamaan.
3. 1 Pengertian Pragmatik
Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
3. 2 Interaksi dan Sopan Santun
Seperti telah dikatakan di awal bab ini, hal-hal di luar bahasa mempengaruhi pemahaman kita pada hal di dalam bahasa. Untuk memahami apa yang terjadi di dalam sebuah percakapan, misalnya, kita perlu mengetahui siapa saja yang terlibat di dalamnya, bagaimana hubungan dan jarak sosial di antara mereka, atau status relatif di anatara mereka. Marilah kita perhatikan penggalan-penggalan percakapan berikut ini.
(1)
A: Setelah ini, kerjakan yang lain.
B: Baik, Bu.
(2) C: Bantuin, dong!
D: Sabar sedikit kenapa, sih?
3.3 Implikatur Percakapan
Di dalam bagian sebelumnya kita telah melihat bahwa di dalam percakapan seorang pembicara mempunyai maksud tertentu ketika mengujarkan sesuatu.Maksud yang terkandung di dalam ujaran ini disebut implikatur. Pembicara di dalam percakapan harus berusaha agar apa yang dikatakannya relevan denga situasi di dalam percakapan itu, jelas dan mudah dipahami oleh pendengarnya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa ada kaidah-kaidah yang harus ditaati oleh pembicara agar percakapan dapat berjalan lancar. Kaidah-kaidah ini, di dalam kajian pragmatic, dikenal sebagai prinsip kerja sama.
3.3 Implikatur Percakapan
Di dalam bagian sebelumnya kita telah melihat bahwa di dalam percakapan seorang pembicara mempunyai maksud tertentu ketika mengujarkan sesuatu.Maksud yang terkandung di dalam ujaran ini disebut implikatur. Pembicara di dalam percakapan harus berusaha agar apa yang dikatakannya relevan denga situasi di dalam percakapan itu, jelas dan mudah dipahami oleh pendengarnya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa ada kaidah-kaidah yang harus ditaati oleh pembicara agar percakapan dapat berjalan lancar. Kaidah-kaidah ini, di dalam kajian pragmatic, dikenal sebagai prinsip kerja sama.
Anak gadis saya yang
perempuan sudah punya pacar. Di dalam kalimat kata gadis sudah
mencakup makan ‘perempuan’ sehingga kata perempuan dalam kalimat
tersebut memberikan kontribusi yang berlebih.
3.4 Pelanggaran Terhadap Maksim Percakapan
Pelanggaran terhadap maksim percakapan akan menimbulkan kesan yang janggal, kejanggalan itu dapat terjadi jika informasi yang diberikan berlebihan, tidak benar, tidak relevan, atau berbelit-belit. Kejanggalan inilah yang biasanya dimanfaatkan di dalam humor.Ada berbagai bentuk pelanggaran di dalam maksim-maksim percakapan.Tentu kita pun pernah mengalami situasi yang janggal karena ada pembicara yang bertele-tele menyampaikan maksudnya, ada kesalahpahaman, ketidaksinkronan, dan sebagainya. Pengetahaun kita mengenai maksim-maksim di atas akan sangat membantu kita dalam memahami situasi yang demikian.
3. 5 Pertuturan
1. Asertif, yang melibatkan penutur kepada kebenaran atau kecocokan proposisi, misalnya menyatakan, menyarankan, dan melaporkan.
3.4 Pelanggaran Terhadap Maksim Percakapan
Pelanggaran terhadap maksim percakapan akan menimbulkan kesan yang janggal, kejanggalan itu dapat terjadi jika informasi yang diberikan berlebihan, tidak benar, tidak relevan, atau berbelit-belit. Kejanggalan inilah yang biasanya dimanfaatkan di dalam humor.Ada berbagai bentuk pelanggaran di dalam maksim-maksim percakapan.Tentu kita pun pernah mengalami situasi yang janggal karena ada pembicara yang bertele-tele menyampaikan maksudnya, ada kesalahpahaman, ketidaksinkronan, dan sebagainya. Pengetahaun kita mengenai maksim-maksim di atas akan sangat membantu kita dalam memahami situasi yang demikian.
3. 5 Pertuturan
1. Asertif, yang melibatkan penutur kepada kebenaran atau kecocokan proposisi, misalnya menyatakan, menyarankan, dan melaporkan.
2.
Direktif, yang tujuannya adalah tanggapan berupa tindakan dari mitra
tutur, misalnya menyuruh, memerintahkan, meminta, memohon, dan
mengingatkan.
3. Komisif, yang melibatkan penutur dengan tindakan atau
akibat selanjutnya, misalnya berjanji, bersumpah, dan mengancam.
4.
Ekspresif, yang memperlihatkan sikap penutur pada keadaan tertentu,
misalnya berterima kasih, mengucapkan selamat, memuji, menyalahkan,
memaafkan, dan meminta maaf.
5. Deklaratif, yang menunjukkan perubahan
setelah diujarkan, misalnya membaptiskan, menceraikan, menikahkan, dan
menyatakan.
3.6 Referensi dan Inferensi
Referensi adalah hubungan di antara unsur luar bahasa yang ditunjuk oleh unsur bahasa dengan lambang yang dipakai untuk mewakili atau menggambarkannya. Referensi di dalam kajian pragmatik merupakan cara merujuk sesuatu melalui bentuk bahasa yang dipakai oleh penutur atau penulis untuk menyampaikan sesuatu kepada mitra tutur atau pembaca. Berkaitan dengan referensi adalah inferensi. Inferensi adalah pengetahuan tambahan yang dipakai oleh mitra tutur atau pembaca untuk memahami apa yang tidak diungkapkan secara eksplisit di dalam ujaran. Untuk memahami referensi dan inferensi, mari kita perhatikan kalimat-kalimat berikut ini. (1) Seseorang suka mendengarkan musik dangdut. (2) Orang itu suka mendengarkan musik dangdut. (3) Orang suka mendengarkan musik dangdut. Sebagai penutur bahasa Indonesia, kita mengetahui bahwa seseorang adalah ‘orang yang tidak dikenal’ dan orang itu adalah orang yang ada didekat kita bicara. Kalimat (1) diatas mempunyai referensi tak takrif, artinya referensi yang tidak tentu. Kalimat (2) mempunyai takrif, apa yang dirujuknya jelas dan bertolak pada rujukan tertentu, sedangkan kalimat (3) mempunyai referensi generic, tidak merujuk kepada sesuatu yang khusus, dan lebih menekankan pada sesuatu yang umum.
3. 7 Deiksis
Deiksis adalah cara merujuk pada suatu hal yang berkaitanerat dengan konteks penutur. Dengan demikian, ada rujukan yang ‘berasal dari penutur’, ‘dekat dengan penutur’ dan ‘jauh dari penutur’. Ada tiga jenis deiksis, yaitu deiksis ruang, deiksis persona, dan deiksis waktu. Ketiga jenis deiksis ini bergantung pada interpretasi penutur dan mitra tutur, atau penulis dan pembaca, yang berada di dalam konteks yang sama.
a. Deiksis Ruang
Deiksis ruang berkaitan dengan lokasi relative penutur dan mitra tutur yang terlibat di dalam interaksi. Di dalam bahasa Indonesia, misalnya, kita mengenal di sini, di situ, dan di sana. Titik tolak penutur diungkapkan dengan ini dan itu.Marilah kita lihat contoh berikut.A dan B sedang terlibat di dalam percakapan.A mengambil sepotong kue dan mengatakan, “Kue ini enak.”Apa yang ditunjuk oleh A, kue ini, tentu akan disebut B sebagai kue itu. Hal ini terjadi karena titik tolak A dan B berbeda. Kita juga mengenal kata-kata seperti di sini, di situ dan ini merujuk kepada sesuatu yang kelihatan atau jaraknya terjangkau oleh penutur. Selain itu, ada kata-kata seperti di sana dan itu yang merujuk pada sesuatu yang jauh atau tidak kelihatan, atau jaraknya tidak terjangkau oleh penutur. Dalam hal tertentu, tindakan kita sering kali bertalian dengan ruang. Jika kita hendak menunjukkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu, misalnya kita memakai kata begini. Jika kita hendak merujuk kepada suatu tindakan., kita memakai kata begitu.
b. Deiksis Persona
Deiksis persona dapat dilihat pada bentuk-bentuk pronominal.Bentuk-bentuk pronominal itu sendiri dibedakan atas pronominal orang pertama, pronominal orang kedua, dan pronominal orang ketiga.Di dalam bahasa Indonesia, bentuk ini masih dibedakan atas bentuk tunggal dan bentuk jamak sebagai berikut. Tunggal Jamak Orang pertama Orang kedua Orang ketiga aku, saya engkau, kau, kamu, anda ia, dia, beliau kami, kita kamu, kalian mereka Kadang-kadang penutur bahasa menyebut dirinya dengan namanya sendiri. Di antara penutur bahasa Indonesia, sapaan kepada orang kedua tidak hanya kamu atau saya, melaikan juga Bapak, Ibu, atau Saudara.
c. Deiksis Waktu
Deiksis waktu berkaitan dengan waktu relative penutur atau penulis dan mitra tutur atau pembaca.Pengungkapan waktu di dalam setiap bahasa berbeda-beda.Ada yang mengungkapkannya secara leksikal, yaitu dengan kata tertentu. Bahasa Indonesia mengungkapkan waktu dengan sekarang untuk waktu kini, tadi dan dulu untuk waktu lampau, nanti untuk waktu yang akan datang. Hari ini, kemarin dan besok juga merupakan hal yang relatif, dilihat dari kapan suatu ujaran diucapkan.
3.6 Referensi dan Inferensi
Referensi adalah hubungan di antara unsur luar bahasa yang ditunjuk oleh unsur bahasa dengan lambang yang dipakai untuk mewakili atau menggambarkannya. Referensi di dalam kajian pragmatik merupakan cara merujuk sesuatu melalui bentuk bahasa yang dipakai oleh penutur atau penulis untuk menyampaikan sesuatu kepada mitra tutur atau pembaca. Berkaitan dengan referensi adalah inferensi. Inferensi adalah pengetahuan tambahan yang dipakai oleh mitra tutur atau pembaca untuk memahami apa yang tidak diungkapkan secara eksplisit di dalam ujaran. Untuk memahami referensi dan inferensi, mari kita perhatikan kalimat-kalimat berikut ini. (1) Seseorang suka mendengarkan musik dangdut. (2) Orang itu suka mendengarkan musik dangdut. (3) Orang suka mendengarkan musik dangdut. Sebagai penutur bahasa Indonesia, kita mengetahui bahwa seseorang adalah ‘orang yang tidak dikenal’ dan orang itu adalah orang yang ada didekat kita bicara. Kalimat (1) diatas mempunyai referensi tak takrif, artinya referensi yang tidak tentu. Kalimat (2) mempunyai takrif, apa yang dirujuknya jelas dan bertolak pada rujukan tertentu, sedangkan kalimat (3) mempunyai referensi generic, tidak merujuk kepada sesuatu yang khusus, dan lebih menekankan pada sesuatu yang umum.
3. 7 Deiksis
Deiksis adalah cara merujuk pada suatu hal yang berkaitanerat dengan konteks penutur. Dengan demikian, ada rujukan yang ‘berasal dari penutur’, ‘dekat dengan penutur’ dan ‘jauh dari penutur’. Ada tiga jenis deiksis, yaitu deiksis ruang, deiksis persona, dan deiksis waktu. Ketiga jenis deiksis ini bergantung pada interpretasi penutur dan mitra tutur, atau penulis dan pembaca, yang berada di dalam konteks yang sama.
a. Deiksis Ruang
Deiksis ruang berkaitan dengan lokasi relative penutur dan mitra tutur yang terlibat di dalam interaksi. Di dalam bahasa Indonesia, misalnya, kita mengenal di sini, di situ, dan di sana. Titik tolak penutur diungkapkan dengan ini dan itu.Marilah kita lihat contoh berikut.A dan B sedang terlibat di dalam percakapan.A mengambil sepotong kue dan mengatakan, “Kue ini enak.”Apa yang ditunjuk oleh A, kue ini, tentu akan disebut B sebagai kue itu. Hal ini terjadi karena titik tolak A dan B berbeda. Kita juga mengenal kata-kata seperti di sini, di situ dan ini merujuk kepada sesuatu yang kelihatan atau jaraknya terjangkau oleh penutur. Selain itu, ada kata-kata seperti di sana dan itu yang merujuk pada sesuatu yang jauh atau tidak kelihatan, atau jaraknya tidak terjangkau oleh penutur. Dalam hal tertentu, tindakan kita sering kali bertalian dengan ruang. Jika kita hendak menunjukkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu, misalnya kita memakai kata begini. Jika kita hendak merujuk kepada suatu tindakan., kita memakai kata begitu.
b. Deiksis Persona
Deiksis persona dapat dilihat pada bentuk-bentuk pronominal.Bentuk-bentuk pronominal itu sendiri dibedakan atas pronominal orang pertama, pronominal orang kedua, dan pronominal orang ketiga.Di dalam bahasa Indonesia, bentuk ini masih dibedakan atas bentuk tunggal dan bentuk jamak sebagai berikut. Tunggal Jamak Orang pertama Orang kedua Orang ketiga aku, saya engkau, kau, kamu, anda ia, dia, beliau kami, kita kamu, kalian mereka Kadang-kadang penutur bahasa menyebut dirinya dengan namanya sendiri. Di antara penutur bahasa Indonesia, sapaan kepada orang kedua tidak hanya kamu atau saya, melaikan juga Bapak, Ibu, atau Saudara.
c. Deiksis Waktu
Deiksis waktu berkaitan dengan waktu relative penutur atau penulis dan mitra tutur atau pembaca.Pengungkapan waktu di dalam setiap bahasa berbeda-beda.Ada yang mengungkapkannya secara leksikal, yaitu dengan kata tertentu. Bahasa Indonesia mengungkapkan waktu dengan sekarang untuk waktu kini, tadi dan dulu untuk waktu lampau, nanti untuk waktu yang akan datang. Hari ini, kemarin dan besok juga merupakan hal yang relatif, dilihat dari kapan suatu ujaran diucapkan.
4. 1 Hubungan Semantik Dan Pragmatik.
Semantik dan pragmatik keduanya mengkaji
makna, namun makna yang menjadi kajian semantik adalah makna linguistik
(linguistic meaning) yang bebas konteks, sedangkan makna yang dikaji
oleh pragmatik adalah maksud penutur (speaker meaning) yang terkait
dengan konteks. Dengan kata lain, semantik mempelajari makna secara
internal, yaitu makna literal danterpisah dari situasi, penutur dan
petuturnya. Akan tetapi, pragmatik mempelajari makna secara eksternal,
yaitu berhubungan langsung dengan penutur atau pemakai bahasa. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa antara Semantik dan pragmatik memiliki
hubungan yang saling melengkapi (komplementer).
Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua segi (dyadic) mencakup bentuk dan makna, sedangkan pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga segi (triadic) yang mencakup bentuk, makna, dan konteks.
Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua segi (dyadic) mencakup bentuk dan makna, sedangkan pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga segi (triadic) yang mencakup bentuk, makna, dan konteks.
Nama : Abdul Hamid
BalasHapusNIM :A1B110201
Asslmkum, sahabatku Sadri, Hesti dan adik-adik tingkat yang tampan2 dan Cantik2....he,he...
Dari materi yang ada blog kelompok 5 tentang Deiksi tertera ada tiga jenis deiksis, yaitu deiksis ruang, deiksis persona, dan deiksis waktu. Jadi yang ingin saya tanyakan ada tidak selain tiga deiksis tersebut?
Terimakasih atas tanggapan dan pertanyaannya ka Hamid, Saya Luthfia Safitri akan menjawab pertanyaan tersebut. menurut saya deiksis yang terdapat dalam semantik dan pragmatik hanya itu saja karena pengertian masing-masing deiksis sudah di utarakan dalam masing-masing deiksis, mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan ka :)
BalasHapusNama: Abdul Gani
BalasHapusNIM : A1B108256
Dimanakah letak perbedaan.
1. Makna denotatif dengan makna lugas.
2. Makna konotatif dengan makna kias.
Berikan penjelasan disertai contoh! Trims.
Assalamualaikum Wr. Wb
BalasHapusBaiklah saya yang bernama Silvia Ronauli S dengan NIM A1B113236 akan mencoba menjawab pertanyaan dari Saudara Abdul Gani.
Makna denotatif adalah makna asli, maka asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi, makna denotatif itu sama dengan makna leksikal. contohnya, kata kurus bermakna denotatif 'keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran normal.'
Kalau makna denotatif mengacu pada makna asli atau makna sebenarnya dari sebuah kata atau leksem. maka makna konotatif adalah makna lain yang '"ditambahkan" pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau sekelompok orang yang menggunakan kata tersebut. kata kurus juga pada contoh diatas berkonotasi netral, artinya, tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan (unfavorable). tetapi kata ramping, yang sebenarnya bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotasi positif, nilai rasa yang megenakkkan. orang akan senang kalau dikatakan ramping. sebaliknya kata kerempeng, yang sebenarnya juga bersinonim dengan kata kurus dan ramping itu emiliki konotasi negatif, nilai rasa yang tidak mengenakkan. orang akan merasa tidak enak kalau tubuhnya dikatakan kerempeng.
Nama : muhammad sadri
BalasHapusNim : A1B110203
Saya ingin menanggpi pertanyaan dari saudara Hamid, tdi anda menanyakan apakah ada deiksis slain yg anda sebutkan tdi?? Iya ada, yaitu deiksis wacana dan deiksis sosial.
Terima kasih..:)